-->
Cari Berita

Breaking News

Kami Tidak Lupa Udo Karzi, Pilrek Unila 2026 Bukan Sekadar Cari Rektor

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Senin, 21 September 2026

Dedy Hermawan


Oleh: Dedy Hermawan -Dosen Pengajar Fisip Unila


Setelah membaca pandangan Udo Z Karzi dalam tulisannya yang berjudul “Yang Terlupakan dari Perhelatan Pemilihan Rektor Unila” yang dipublikasikan dalam media online inilampung.com, Minggu, 19 September 2026, dapat ditemukan sejumlah catatan kritis. Catatan kritis tersebut diantaranya agenda pilrek sibuk menghitung kursi sehingga lupa menghitung gagasan, pemilihan Rektor PTN, termasuk Unila, terkooptasi oleh kekuasaan luar, PTN bukan sekedar birorkasi dengan target kuantitatif kinerja tapi rumah ilmu pengetahuan, tempat tumbuhnya tradisi intelektual, kencedikiaan dan mimbar akademik, dan agenda Pilrek yang berpotensi menghasilkan sekedar pejabat Rektor, bukan ide masa depan universitas.


Pertama, agenda pilrek menghadirkan ruang terbuka adu gagasan. Masing-masing kompetitor telah mengemukakan berbagai gagasan untuk melakukan transformasi Unila di masa depan. Gagasan telah disebar di berbagai media sosial. Mendapatkan tanggapan kritik dan dukungan, baik berbasis argumen maupun sentimen, dalam bentuk positive campaign, negative campaign, hingga black campaign. 


Tidak berhenti disitu, adu gagasan akan dhadirkan secara offline. Para kontestan pilrek akan berkeliling fakultas dan terakhir di GSG untuk menyampaikan visi, misi dan program unggulan untuk Unila empat tahun kedepan. Forum tersebut terbuka bagi civitas akademika dan masyarakat. Agenda lengkap bisa diakses di https://pilrek.unila.ac.id/.


Kedua, sejak rezim 35% suara menteri hadir, semua agenda pilrek di berbagai PTN, khsususnya PTB berstatus BLU, maka “kasak-kusuk” dan loby-loby dengan berbagai jaringan untuk menembus pemilik 35% tidak terhindarkan. Protes terbuka hingga aksi jalanan telah dilakukan. Tuntutan agar PTN diberikan kedaulatan penuh memilih rektor belum membuahkan hasil. Apakah otomatis jalan untuk menghadirkan kampus sebagaimana Udo Z Karzi sampaikan pun turut terhenti? Tentu tidak. Masih menyala para civitas akademika untuk mentranformasi Unila menjadi kampus ilmu pengetahuan yang berdampak. Menjadi kekuatan kontrol kekuasaan, moral force ditengah langit mendung kampus-kampus di Indonesia. Momentum pilrek jadi media untuk hal itu. Mengambil Langkah taktis, memanfaatkan pilrek untuk mendudukan akademisi berlatar intelektual organik menjadi Rektor Unila 2027-2031.


Ketiga, pilrek secara aturan merupakan agenda administrasi dan manajemen PTN sebagai bagian dari birokrasi Kementerian Dikti dan Saintek. Sistemnya telah diatur lengkap. Semua PTN termasuk Unila tinggal menjalankan. 


Tapi, kita ingin melampaui itu semua. Menjadikan agenda Pilrek Unila sebagai arena publik untuk memastikan para calon pemimpin masa depan Unila memiliki integritas tinggi, kekuatan intelektual organik, ada legitimasi civitas akademika dan publik, dan memiliki kemampuan mengelola sumber daya Unila secara kolaboratif dengan panduan visi, misi dan program yang jelas. Stop memproduksi rektor sekedar jabatan, mari hadirkan rektor sekaligus pemimpin transformatif.


Keempat, sebagaimana telah beradar informasi terdapa 6 (enam) bakal calon untuk mengikuti Pilrek Unila tahun 2026 ini. Keenam balon tersebut adalah Prof. Warsito, Dr. Budiyono, Prof. Asep Sukohar, Prof. Rudy, Prof. Anna Gustina Z., dan Prof. Hamzah. Mari manfaatkan berbagai kesempatan di media sosial maupun forum remsi kampanye offline untuk menguji para bakal calon tersebut. 


Ditengah keterbatasan aturan untuk menghadirkan kedaulatan penuh. Masih ada suara publik yang jernih, suara civitas akademika, dengan basis argumen, bukan sentimen, untuk memeriksa para peserta pilrek dari aspek integritas, intelektualitas, kompetensi manajerial, kepemimpinan dan berjejaring. 


Pastikan para peserta bersih dari virus-virus oportunis, “kutu loncat”, pemburu jabatan, dan bersih dari pelanggaran-pelanggaran integritas akademik.


Mari jadikan “Pesta Demokrasi Kampus” pesta kita bersama. 


Semua boleh hadir, civitas akademika, alumni, tendik, tokoh masyarakat, dan elemen-elemen civil society. Kampus milik kita. Semua akan menjadi suara-suara publik yang bebas menuntun Unila ke jalan yang benar. Ia lincah mencari jalan keluar. Menembus telinga kekuasaan untuk membisikkan pesan agar memilih sosak akademisi yang tepat untuk Unila empat tahun kedepan. 


Sosok pemimpin transformatif, bukan kutu loncat, bukan pemburu jabatan, bukan pula oportunis yang ingin memperkaya diri (reent seeking). Sosok yang memiliki ide besar, pikiran besar, bukan sekadar jabatan fungsional yang besar.


Terima kasih Udo Z Karzi atas pandangan kritisnya. Unila adalah rumah kita bersama. Semua kritik menjadi vitamin untuk menguatkan Unila. Menjadi energi perubahan. Berbagai musibah selama ini bisa jadi akibat tidak pekanya para pengelola Unila dalam merespon berbagai kritik. Saatnya Unila berakselerasi. Kolaborasi menjadi kunci. 


Mari merangkai seluruh elemen kampus, berjejaring dengan stakeholders local, nasional dan internasional, untuk merubah Kampus Unila menjadi Kampus Berdampak. (**)

LIPSUS