-->
Cari Berita

Breaking News

Mengenang Patriotisme Prof. Dr. Ir. Margono Slamet, MSc, Rektor Unila 1981-1990

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Sabtu, 05 September 2026

Oleh: Prof. Admi Syarif, PhD 

SIANG itu matahari terasa lumayan terik. Bersama Drs. Mardi Syaferi, MM, Kepala Biro Perencanaan Unila ketika itu, saya mengendarai sebuah mobil berangkat dari Cilangkap menuju kediaman Prof. Dr. R. Margono Slamet di kawasan Bogor Baru.

Kedatangan kami ke Bogor sebenarnya bukan sekadar untuk bersilaturahmi atau menjenguk beliau. Ada sebuah maksud yang jauh lebih penting: kami ingin mendengar langsung dari sang pelaku sejarah tentang cerita-cerita di balik pembangunan Universitas Lampung pada masa awal.

Kami ingin tahu bagaimana Unila dibangun ketika fasilitas belum seperti sekarang. Bagaimana keputusan-keputusan besar diambil ketika sumber daya masih terbatas. Apa saja persoalan yang dihadapi para pimpinan Unila ketika itu. Siapa saja yang berada di balik pembangunan kampus. Dan, yang paling penting, nilai-nilai apa yang menjadi pegangan para pendiri dan pemimpin awal Unila dalam membangun sebuah perguruan tinggi negeri di Lampung.

Ada cerita yang hanya diketahui oleh orang yang mengalaminya.

Ada peristiwa yang tidak pernah tertulis dalam laporan resmi.

Ada keputusan yang mungkin hanya diketahui oleh mereka yang duduk dalam ruang-ruang rapat pada masa itu.

Dan Prof. Margono adalah salah seorang yang mengetahui bagian penting dari perjalanan tersebut.

Foto Prof. Ir. Margono Slamet, rektor Unila periode 1981- 1990

Beliau adalah Rektor kedua Universitas Lampung. Karena itu, kami berharap dapat duduk bersama beliau, mendengarkan langsung kesaksian seorang pelaku sejarah tentang bagaimana Unila dibangun dan dikembangkan pada zamannya.

Pada waktu itu, saya memang sedang berusaha mengumpulkan cerita, kesaksian, dokumen, dan foto-foto lama dari para tokoh yang pernah terlibat dalam perjalanan Universitas Lampung.

Saya ingin membukukannya dalam sebuah buku yang saya beri judul: “50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri”

Buku itu saya tulis  bukan sekadar buku sejarah yang berisi tanggal, nama, jabatan, dan daftar pencapaian. Lebih dari pada itu, saya ingin buku tersebut menghadirkan manusia di balik sejarah Unila.

Saya ingin mendapatkan perspektif  mereka dalam memandang Universitas Lampung, bukan sekadar sebagai tempat bekerja, tetapi sebagai rumah besar ilmu pengetahuan yang harus dibangun untuk kepentingan bangsa dan generasi mendatang.

Sebuah foto lama mungkin hanya selembar kertas bagi sebagian orang. Tetapi bagi saya, ia adalah potongan sejarah.

Sebuah cerita yang disampaikan seorang mantan rektor mungkin hanya terdengar sebagai kenangan masa lalu. Tetapi di dalamnya bisa terdapat pelajaran kepemimpinan yang sangat mahal harganya.

Generasi sekarang, atau mungkin pimpinan saat ini dan ke depan, mungkin mengetahui gedung yang telah berdiri, tetapi belum tentu mengetahui siapa yang dahulu patriot-patrion Unila yang memperjuangkannya.

Generasi atau pimpinan sekarang mungkin menikmati kemajuan Unila, remunerasi, tunjangan jabatan dan berbagai insentif, tetapi belum tentu memahami betapa sulitnya membangun fondasi universitas pada masa itu. 

Dan generasi yang akan datang harus mengetahui bahwa setiap kemajuan selalu memiliki harga berupa perjuangan generasi sebelumnya.


Setelah melalui jalan yang sedikit berliku, akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tetapi tampak asri dan teduh.

Kami disambut istri beliau yang tampak sangat gembira melihat kedatangan kami dari Lampung.

Apalagi ketika kami menyerahkan oleh-oleh khas Lampung.

Beliau tersenyum lebar. Ada kegembiraan yang sulit disembunyikan. Mungkin bukan semata-mata karena oleh-olehnya, tetapi karena benda-benda kecil dari Lampung itu membawa serta kenangan panjang tentang tanah yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup suaminya.

Setelah duduk sebentar, beliau berkata pelan, “Bapak sedang sakit. Tuh, tidur di kamar.”

Saya dan Pak Mardi kemudian diajak menuju kamar. Di sana, saya melihat seorang tokoh besar yang dahulu begitu gagah memimpin Universitas Lampung. Kini beliau terbaring dalam keheningan.

Saya mendekat, mengulurkan tangan, bersalaman dengan beliau. Saya duduk di sampingnya, seraya dalam hati memanjatkan doa agar Allah memberikan kesembuhan dan kesehatan kepadanya.

Dalam hati saya berkata: “Prof, sebenarnya kami datang untuk mendengar cerita. Kami ingin mendengar langsung dari Bapak tentang Unila yang dahulu.”

Kami ingin menggali cerita dari seorang pelaku sejarah, tetapi sang pelaku sejarah justru sedang terbaring lemah.

Saya pun hanya bisa duduk di samping beliau.

Menatap wajahnya.

Menggenggam tangannya.

Dan berdoa.


Sore ini, ketika menikmati kopi robusta. Lampung terbaik di Nuwono Tasya, 
saya mengingat kembali pertemuan itu, saya semakin menyadari betapa pentingnya pekerjaan mendokumentasikan sejarah secara langsung dari para pelakunya.

Sebagian  pelaku sejarah telah pergi untuk selamanya.

Bersamaan dengan kepergian mereka, pergi pula cerita-cerita yang mungkin tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi.

Karena itu, saya ingin mewakafkan buku “50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri”  untuk menjadi dokumentasi perjalanan sejarah Unila.

Saya ingin buku itu menjadi cermin bagi para pemimpin Unila.

Bahwa jabatan rektor bukanlah sekadar kedudukan. Bahwa kekuasaan akademik bukanlah ruang untuk memperkaya diri.

Bahwa membangun universitas bukan hanya membangun gedung dan fasilitas. Tetapi membangun manusia, peradaban, integritas, dan masa depan bangsa.

Saya berharap seluruh civitas akademika Unila kelak membaca buku itu dan  mengetahui siapa yang pernah diimpikan pendiri Unila.

Mereka meninggalkan  warisan berupa integritas, keteladanan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kehormatan Universitas Lampung.

Bisa kita bayangkan jika  seorang pemimpin meninggalkan luka, ketidakjujuran, atau persoalan moral, sejarah juga mempunyai cara sendiri untuk mengingatnya.

Sebelum mereka duduk di kursi rektor, telah ada orang-orang yang bekerja dalam keterbatasan untuk membangun fondasi Unila.

Dan setelah mereka selesai menjalankan amanah, akan ada generasi berikutnya yang menilai apa yang telah mereka tinggalkan.


Sungguh, perjumpaan singkat itu meninggalkan kesan yang panjang bagi saya. 

Saya semakin menyadari bahwa sejarah tidak boleh menunggu sampai para pelakunya pergi.

Sebelum pulang, saya kemudian menatap kembali wajah Prof. Margono. Saya menggenggam tangannya.

Dalam hati saya berdoa:

Semoga Allah memberikan kesembuhan dan keberkahan kepada beliau.

Dan semoga suatu hari nanti, cerita-cerita perjuangan beliau dan para pendahulu Unila dapat menjadi bagian dari buku yang saya impikan.

Karena pada akhirnya, pemimpin boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi nilai perjuangan tidak boleh hilang. (**)

*) Prof. DR. Armi Syarif, Ph.D., adalah Guru Besar  MIPA Unila, dan Penulis buku “50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri”

Anggota Dewan Riset Daerah Provinsi Lampung, reviewer penelitian nasional.

* Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lampung

LIPSUS