Oleh: Ma'ruf Abidin | Anggota Sikambara Lampung
STADIUM Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang memerah total oleh lautan manusia bukan lagi sekadar pemandangan visual yang memanjakan mata. Laga yang berakhir 2 :1 untuk Persija sangat memukau penggila sepakbola tanah air.
Di era modern ini, gemuruh puluhan ribu suporter di dalam stadion adalah detak jantung dari sebuah ekosistem ekonomi baru yang disebut entertainsport industry. Laga klasik antara Persija Jakarta dan Persib Bandung adalah contoh paling paripurna di Indonesia mengenai bagaimana sepak bola bertransformasi dari sekadar olahraga 90 menit menjadi komoditas industri hiburan bernilai miliaran rupiah.
Fenomena ini memicu sebuah refleksi besar bagi daerah-daerah yang sedang merangkak membangun iklim sepak bolanya, salah satunya adalah Provinsi Lampung.
Daerah ini memiliki gairah, namun masih terbentur pada masalah tata kelola, visi manajemen, dan cara membangun ikatan emosional dengan suporter di akar rumput.
Transformasi Industri: Efek STY dan Ledakan Fanatisme
Keberhasilan Persija dan Persib bertransformasi menjadi korporasi olahraga yang sehat tidak terjadi dalam semalam. Salah satu katalisator terbesar dalam beberapa tahun terakhir adalah melonjaknya standar sepak bola nasional yang dipicu oleh performa Tim Nasional di bawah asuhan Shin Tae-yong (STY). Efek domino dari kedisiplinan dan prestasi yang dibawa STY ke skuad Garuda telah menaikkan selera estetika dan ekspektasi pencinta sepak bola tanah air.
Penonton tidak lagi sekadar ingin melihat bola ditendang ke depan, mereka ingin melihat taktik modern, fisik yang prima, dan pengelolaan klub yang profesional.
Ketika standar permainan meningkat, fanatisme suporter yang dulunya kerap dipandang sebagai potensi konflik, kini bergeser menjadi aset ekonomi yang sangat berharga.
Fanatisme The Jakmania dan Bobotoh telah bermutasi menjadi loyalitas konsumen yang luar biasa tinggi. Mereka tidak hanya membeli tiket pertandingan, tetapi juga berburu jersi orisinal, berlangganan aplikasi resmi klub, hingga membeli produk-produk dari sponsor yang menempel di dada para pemain.
Persija dan Persib telah sukses mengemas fanatisme ini menjadi sebuah produk hiburan yang menarik bagi televisi dan investor kakap. Sepak bola di tangan mereka telah menjadi industri kreatif yang menghidupkan UMKM, perhotelan, hingga sektor transportasi.
Pelajaran Penting untuk Persepakbolaan Lampung
Melihat kemegahan di ibu kota dan Bandung, persepakbolaan Lampung sudah sepatutnya merasa cemburu, sekaligus terpacu untuk belajar banyak. Lampung bukanlah daerah yang buta sepak bola. Sejarah mencatat Lampung pernah memiliki masa kejayaan, dan masyarakatnya memiliki kerinduan yang mendalam akan hadirnya tim lokal yang berlaga di kasta tertinggi Liga Indonesia.
Namun, mengapa sepak bola Lampung seolah berjalan di tempat?Jawabannya ada pada manajemen. Persepakbolaan Lampung perlu belajar banyak dari manajemen Persib dan Persija tentang bagaimana mengelola sebuah klub sebagai entitas bisnis modern, bukan sekadar proyek politik musiman atau hobi sesaat para elit daerah.
Persib Bandung, misalnya, dikenal sebagai salah satu klub paling sehat secara finansial karena mampu melepaskan diri dari ketergantungan dana pemerintah sejak dini dan membangun struktur korporasi yang profesional. Manajemen Persija juga terus berinovasi memanfaatkan pasar Jakarta yang masif melalui digitalisasi dan sport marketing yang agresif.
Lampung harus mulai membenahi infrastruktur, pembinaan usia muda yang terstruktur, dan yang terpenting: transparansi pengelolaan klub lokal.
Sepak bola modern membutuhkan kepastian hukum, kenyamanan investasi, dan kenyamanan bagi suporter. Selama manajemen klub-klub di Lampung masih dikelola dengan cara-cara amatir, maka potensi pasar Lampung yang besar hanya akan menjadi penonton dari kejayaan klub-klub luar daerah.
Intervensi Vital Pemprov dan Otoritas Pemegang Kebijakan
Di sinilah peran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung serta Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Lampung selaku otoritas tertinggi pemegang kebijakan sepak bola lokal diuji. Manajemen klub yang profesional tidak akan bisa bertumbuh di atas tanah yang tandus tanpa regulasi dan dukungan infrastruktur yang memadai.
Pemprov Lampung tidak bisa lagi menempatkan sepak bola hanya sebagai agenda dinas olahraga tahunan. Pemprov harus bertindak sebagai fasilitator utama dalam revitalisasi infrastruktur stadion, seperti Stadion Sumpah Pemuda atau Stadion Utama Lampung, agar memenuhi standar kelayakan kompetisi modern yang aman dan ramah bagi keluarga.
Stadion yang representatif adalah syarat mutlak jika ingin memikat investor kakap dan pemegang hak siar televisi.
Lebih dari sekadar semen dan beton, Asprov PSSI Lampung wajib merombak total peta jalan (blueprint) kompetisi lokal. Otoritas kebijakan sepak bola Lampung harus mampu menggulirkan kompetisi usia dini (pembinaan grassroots) yang konsisten, transparan, dan bebas dari praktik titipan atau nepotisme.
Pemprov dan Asprov juga perlu menciptakan iklim investasi olahraga yang seksi, misalnya dengan memberikan kemudahan perizinan atau insentif bagi perusahaan swasta lokal yang mau menjadi sponsor utama klub atau akademi daerah. Tanpa sinergi regulasi yang kuat dari para pemegang kebijakan ini, cita-cita melihat klub asli Lampung bersaing di papan atas industri entertainsport akan tetap menjadi mimpi di siang bolong.
*Bhayangkara FC: Jangan Jadi Asing di Lampung
Di tengah dahaga masyarakat Lampung akan sepak bola level tinggi, kehadiran Bhayangkara FC yang menjadikan Lampung sebagai home base (markas) sempat memercikkan harapan. Namun, kehadiran klub ini memicu kritik mendasar terkait pendekatan mereka terhadap publik lokal. Bhayangkara FC tidak boleh eksklusif. Mereka tidak bisa sekadar datang, menyewa stadion, bertanding, lalu pulang tanpa meninggalkan dampak sosial dan emosional bagi masyarakat Lampung.
Menjadikan Lampung sebagai basis wilayah harus diikuti dengan upaya membangun basis suporter yang mengakar kuat. Sepak bola bukan sekadar bisnis waralaba yang bisa dipindahkan dari satu kota ke kota lain secara instan tanpa membangun ikatan batin. Jika Bhayangkara FC tetap mempertahankan sikap eksklusif dan gagal membaur dengan kultur lokal, mereka hanya akan menjadi tim asing yang bermain di tanah Lampung.
Stadion akan tetap sepi, dan masyarakat Lampung tidak akan pernah merasa memiliki klub tersebut. Untuk mengubah stigma ini, Bhayangkara FC harus segera turun ke akar rumput (grassroots). Mereka harus aktif melakukan community engagement, mengadakan lokakarya kepelatihan untuk guru-guru olahraga lokal, serta membuka akademi sepak bola yang serius menjaring talenta-talenta muda asli Lampung.
Nama Lampung tidak boleh sekadar menjadi tempelan di papan skor atau berkas registrasi liga, melainkan harus diwakili oleh keringat anak-anak lokal yang diberi kesempatan merumput di lapangan hijau.
*Menuju Fajar Baru Sepak Bola Lampung
Membangun industri sepak bola yang mandiri dan dicintai memang membutuhkan napas panjang dan investasi yang tidak sedikit. Namun, jalan itu telah dirintis dan dibuktikan oleh Persija dan Persib bahwa fanatisme yang dikelola dengan manajemen yang benar akan melahirkan industri yang menghidupkan.
Bagi Lampung, tantangan ini adalah sebuah keharusan jika tidak ingin selamanya menjadi penonton di tengah pesatnya pertumbuhan industri entertainsport nasional. Pemerintah daerah, pengusaha lokal, dan para pegiat sepak bola di Lampung harus duduk bersama merumuskan cetak biru sepak bola daerah. Sementara bagi klub pendatang seperti Bhayangkara FC, meluluhkan hati masyarakat Lampung dengan keterbukaan dan kontribusi nyata adalah satu-satunya cara agar mereka bisa diterima sebagai bagian dari keluarga, bukan sekadar tamu yang menumpang lewat. Sepak bola adalah milik rakyat, dan ia hanya akan tumbuh subur di tanah di mana akarnya tertanam kuat. (**)

