-->
Cari Berita

Breaking News

Merajut Seuyunan di Bumi Sekala Brak

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Sabtu, 26 September 2026




35 Tahun Memutus Luka, Menjahit Masa Depan dengan Beguai Jejama


Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis berdomisili di Lampung Barat.


Tiga puluh lima tahun tanah ini menarik napas di antara kemegahan bentang alam Bukit Barisan dan ketulusan doa-doa yang melangit dari balik kebun kopi. Hari ini bukan sekadar deretan angka yang kita hitung di atas kalender kenegaraan. Hari ini adalah sebuah momentum muhasabah agung tentang luka yang sembuh, tawa yang tumbuh, dan syukur yang kita semaikan di setiap pekon di Bumi Sekala Brak yang penuh berkah ini.


Jika tanah Lampung Barat bisa berbicara, ia akan bercerita tentang keindahan kolaborasi. Tentang dedikasi umara yang merumuskan maslahat di ruang-ruang kebijakan, yang berpadu dengan tetesan keringat ayah-ayah kita yang menggarap perbukitan erosi, serta keikhlasan ibu-ibu yang menanak nasi sambil bersenandung menjaga moral anak-anaknya di sepertiga malam.


Momentum 35 tahun ini dibingkai dengan falsafah adat yang luhur: Setawitan, Seuyunan, Sehangguman, Maju Jejama—satu tujuan, satu arah, satu hati, dan maju bersama. Inilah kompas kultural kita, sebuah manifestasi dari perintah teologis untuk bergerak dalam satu barisan yang kokoh.


Memutus Rantai Luka: Pelajaran dari Thaif untuk Liwa


Dalam timbangan peradaban Islam, membangun daerah bertumpu pada dua tugas utama yang simultan: memutus rantai keburukan dan merajut simpul kebaikan. Allah SWT berfirman: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34).


Di usia ke-35 ini, apa rantai luka yang harus kita putus bersama di Lampung Barat?

Pertama, kita harus memutus rantai kata-kata yang melukai. Kita tidak akan pernah menjemput kemajuan yang berkah jika lisan kita masih dipenuhi caci maki, fitnah, dan budaya merendahkan sesama seperti kata-kata kasar yang kini kerap merajalela di ruang digital. 


Pembangunan yang beradab hanya lahir dari lisan yang terjaga.

Rasulullah SAW memberikan teladan tertinggi dalam memutus mata rantai luka ini. Ketika Beliau dilempari batu di Thaif hingga terompahnya dipenuhi darah, Malaikat Jibril menawarkan untuk menimpakan Gunung Akhsyabain kepada penduduk yang zalim tersebut. Namun, Rasulullah justru memutus rantai dendam itu dengan doa yang menggetarkan arsy: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.”


Beliau mengajarkan kita sebuah esensi moral: Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang dilakukan orang lain kepada kita, tetapi kita memegang kendali penuh atas bagaimana cara kita memperlakukan orang lain. Ketika seseorang menyakiti kita, jangan biarkan luka itu mengubah kita menjadi seorang penjahat baru. Jadilah pemutus rantai keburukan, bukan penerusnya. 


Jika rantai saling curiga dan saling memaki ini tidak kita putus di Liwa, maka jala Beguai Jejama kita akan robek. Karena bentangan jala tidak akan pernah bisa dirajut dengan benang kebencian.


Merajut Simpul Kebaikan: Dari Ta’awun Menuju Beguai Jejama


Tugas kedua kita setelah memutus luka adalah merajut simpul-simpul kebaikan. Inilah makna sejati dari Setawitan (satu tujuan) dan Seuyunan (satu arah/seirama).

Dalam khazanah Islam, falsafah ini setara dengan konsep Ta’awun (tolong-menolong dalam kebajikan), Ishlah (rekonsiliasi yang santun), Mahabbah (saling mencintai), dan Tawashau bil Haq wal Marhamah (saling menasihati dalam kebenaran dan kasih sayang).


Sebuah daerah tidak akan pernah kuat jika setiap elemennya berjalan sendiri-sendiri. Kekompakan adalah jala, dan kemajuan adalah ikan yang hanya mau naik ke permukaan jika kita menarik jala tersebut bersama-sama secara presisi.

Rasulullah SAW membangun peradaban emas Madinah bukan dengan keangkuhan sektoral, melainkan dengan merajut simpul persaudaraan yang kokoh antara kaum Muhajirin dan Anshar. 


Ketika pemerintah merangkul masyarakat dengan keadilan, dan masyarakat menyambut pembangunan dengan ketulusan, di situlah pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi akan dibuka oleh Allah SWT.


HUT ke-35 ini adalah cermin tua tempat kita merefleksikan kembali janji dan sumpah pengabdian. Falsafah leluhur Bumi Sekala Brak mendidik kita untuk memegang teguh tiga pilar pembangunan.


1. Membangun adalah Merawat: 

Pembangunan bukan sekadar mendirikan struktur beton baru, melainkan merawat interkoneksi jalan hingga ke pelosok pekon, menjaga kelestarian ekologi Bukit Barisan, dan yang paling utama, merawat kerukunan antar-suku serta agama.


2. Memimpin dan Mengabdi adalah Mendengar: 

Visi yang bijak adalah visi yang diletakkan dekat dengan denyut nadi masyarakat bawah. Kebijakan tidak boleh hanya menjadi pesta di atas kertas. Pemimpin dan abdi negara yang baik bukan yang paling lantang suaranya di podium, melainkan yang paling dalam daya dengarnya terhadap keluhan rakyat.


3. Mencintai Tanah Kelahiran adalah Menjaganya Tetap Hidup:

Memastikan setiap potensi daerah terajut rapi, simpul demi simpul, tanpa ada yang terpinggirkan.


Milik Kita Bersama


Tanah Lampung Barat ini adalah milik kita bersama. Milik umara yang berjuang siang-malam mengelola daerah, milik ibu yang ikhlas menanak nasi, milik anak-anak yang menghafal bait-bait Al-Qur'an di TPA, serta milik petani kopi dan pedagang yang dagangannya adalah cerita tentang harapan dari Sekincau sampai Suoh.


Kita semua adalah kepingan penting yang jika disatukan dengan semangat Sehangguman (satu hati) akan membentuk potret kemajuan yang nyata.

Maka, di bawah langit Lampung Barat yang ke-35 ini, mari kita buang jauh-jauh sifat saling curiga. Mari kita buka ruang kolaborasi yang luas, munculkan kreasi dan inovasi, serta wadahi potensi anak-anak muda agar bakat mereka tidak mati di dalam laci. 


Biarlah pelayanan publik mengalir sejuk seperti hujan pagi di Liwa, membasahi sektor ekonomi, sosial, dan budaya sampai ke akar yang paling dalam.

Mari kita sujudkan syukur yang paling dalam kehadirat Allah SWT, kita angkat karya terbaik kita, dan kita jahit luka masa lalu dengan benang kasih sayang bernama Beguai Jejama. Sampai suatu hari nanti, jala kemakmuran itu kembali penuh.


Semoga Allah SWT menjadikan Kabupaten Lampung Barat sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur—negeri yang aman, makmur, lestari, dan selalu berada dalam naungan ampunan serta ridha-Nya. Semoga semangat Maju Jejama benar-benar menjelma menjadi gerakan kesadaran bersama. (**)

LIPSUS