Oleh: Clara Vanesa Dea Putri -Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung.
Menjadi mahasiswa tidak selalu berjalan dengan mudah. Tugas yang menumpuk, jadwal kuliah, tuntutan nilai, kegiatan organisasi, hingga persoalan pribadi dapat menjadi tekanan tersendiri. Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan tuntutan akademik, tetapi juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan menjaga kehidupan sosialnya.
Salah satu aktivitas yang sering dilakukan mahasiswa adalah berkumpul atau nongkrong bersama teman. Bagi sebagian mahasiswa, nongkrong bukan hanya tentang bersenang-senang. Bertemu teman dapat menjadi kesempatan untuk bercerita, bertukar pikiran, tertawa bersama, atau sekadar mengambil jeda dari rutinitas perkuliahan yang melelahkan.
Hal tersebut juga saya rasakan sebagai mahasiswa.
Ketika tugas dan berbagai tuntutan perkuliahan mulai terasa melelahkan, berkumpul dengan teman terkadang membuat pikiran saya sedikit lebih ringan. Tidak selalu harus membicarakan masalah kuliah. Sekadar mengobrol, bercanda, makan bersama, atau menceritakan hal-hal sederhana sudah cukup membuat saya merasa tidak terus-menerus berada dalam suasana yang penuh tekanan. Setelah itu, biasanya saya bisa kembali mengerjakan tugas dengan pikiran yang lebih tenang.
Bagi saya, bukan berarti masalah akademik menjadi hilang, tetapi setidaknya ada waktu untuk berhenti sejenak sebelum kembali menghadapinya.
Dalam psikologi, hubungan sosial menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan pengalaman seseorang ketika menghadapi tekanan.
Penelitian Rumbrar dan Soetjiningsih (2022) mengenai hubungan dukungan sosial dengan stres akademik pada mahasiswa melibatkan 50 mahasiswa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara dukungan sosial dan stres akademik pada kelompok yang diteliti tidak signifikan.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa memiliki teman atau mendapatkan dukungan sosial tidak secara otomatis membuat tingkat stres akademik seseorang menjadi lebih rendah.
Dengan demikian, nongkrong juga tidak dapat dianggap sebagai solusi untuk semua masalah akademik mahasiswa. Namun, interaksi bersama teman tetap dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial.
Melalui percakapan dan kebersamaan, mahasiswa memiliki ruang untuk berkomunikasi dan saling memberikan dukungan ketika menghadapi berbagai tuntutan perkuliahan.
Tekanan akademik yang berlangsung terus-menerus juga perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kelelahan akademik atau academic burnout. Yosalia dan Soetjiningsih (2023) membahas hubungan dukungan sosial dengan academic burnout pada mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi sosial mahasiswa juga menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan ketika membahas kehidupan akademi
Menurut saya, mahasiswa tetap perlu menemukan keseimbangan antara kewajiban akademik, waktu istirahat, dan kehidupan sosial. Nongkrong tidak harus dipandang sebagai kegiatan untuk melarikan diri dari tugas. Jika dilakukan secara wajar, kegiatan bersama teman dapat menjadi salah satu bentuk jeda sebelum kembali menghadapi rutinitas perkuliahan.
Pada akhirnya, nongkrong mungkin terlihat sebagai aktivitas sederhana. Namun, bagi mahasiswa yang sedang menghadapi berbagai tuntutan, kesempatan untuk berbicara dan menghabiskan waktu bersama teman dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial yang tidak kalah penting. Bukan untuk menghilangkan semua masalah, melainkan memberikan ruang untuk berhenti sejenak, mengurangi beban pikiran, dan kemudian kembali menjalani tanggung jawab sebagai mahasiswa. (**)

