-->
Cari Berita

Breaking News

Perbedaan dan Kebersamaan dalam Masyarakat Perspektif Psikologi Terapan

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Sabtu, 26 September 2026

Kehidupan Sosial


Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA -Dosen UIN Jurai Siwo Lampung.


Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin beragam. Di satu lingkungan, kita dapat bertemu orang dengan latar belakang suku, agama, bahasa, tradisi, dan kebiasaan yang berbeda. Keberagaman semestinya menjadi kekayaan sosial. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan juga tidak jarang menjadi sumber jarak, prasangka, bahkan konflik. 


Pertanyaannya kemudian bukan bagaimana menghilangkan perbedaan, melainkan bagaimana kita dapat hidup bersama di tengah perbedaan tersebut. Dalam perspektif psikologi sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk mengelompokkan dirinya dan orang lain berdasarkan identitas tertentu. Kita mengenal istilah ingroup, yaitu kelompok yang kita anggap sebagai “kelompok kita”, dan outgroup, yaitu kelompok yang dipersepsikan sebagai “kelompok mereka”. Kategorisasi semacam ini sebenarnya merupakan bagian alami dari proses berpikir manusia. 


Persoalan muncul ketika perbedaan tersebut berkembang menjadi stereotip, prasangka, dan perlakuan yang tidak adil. Di sinilah proses asimilasi dan akulturasi menjadi relevan. Asimilasi menggambarkan proses ketika individu atau kelompok menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang lebih luas sehingga sejumlah perbedaan semakin berkurang. 


Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat terlihat dari penggunaan bahasa yang sama, kebiasaan sosial yang semakin serupa, atau keterlibatan dalam aktivitas bersama. Namun, hidup bersama tidak selalu berarti harus menjadi sama. Akulturasi menunjukkan bahwa perjumpaan budaya juga dapat menghasilkan proses saling memengaruhi. 


Seseorang dapat mempelajari kebiasaan baru tanpa harus kehilangan seluruh identitas budaya asalnya. Ia dapat mengadopsi nilai tertentu dari lingkungan baru, sekaligus tetap mempertahankan bahasa, tradisi, atau nilai yang dianggap penting. Ini penting karena masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang memaksa semua orang menjadi seragam. Kebersamaan justru dapat tumbuh ketika perbedaan memperoleh ruang, sementara setiap orang memiliki kesediaan untuk berinteraksi dan bekerja sama.

 

Psikologi sosial juga menunjukkan pentingnya interaksi antarkelompok. Pertemuan antara kelompok yang berbeda tidak otomatis menghapus prasangka. Kontak yang penuh persaingan atau ketidaksetaraan bahkan dapat memperkuat jarak. Sebaliknya, interaksi yang dibangun melalui kerja sama, tujuan bersama, dan posisi yang relatif setara memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan hubungan yang positif. 


Karena itu, membangun toleransi tidak cukup hanya dengan mengajarkan bahwa “kita harus menghargai perbedaan”. Kita perlu menciptakan pengalaman sosial yang memungkinkan orang benar-benar berjumpa dengan mereka yang berbeda. Sekolah, misalnya, dapat menjadi ruang penting untuk membangun kebersamaan. Anak-anak tidak hanya perlu belajar tentang keberagaman melalui buku, tetapi juga memperoleh pengalaman bekerja sama dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda. 


Demikian pula di tempat kerja dan lingkungan masyarakat. Kegiatan bersama yang memiliki tujuan nyata seperti kegiatan sosial, olahraga, gotong royong, atau program pemberdayaan masyarakat dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kelompok-kelompok yang sebelumnya berjarak.

 

Ada hal lain yang tidak kalah penting yaitu membangun identitas bersama. Seseorang dapat tetap merasa sebagai bagian dari kelompok budaya atau agama tertentu, sekaligus menyadari bahwa ia merupakan bagian dari komunitas yang lebih luas. Identitas yang berlapis tersebut memungkinkan kita mengatakan, “Saya berbeda dari Anda dalam beberapa hal, tetapi kita memiliki ruang kehidupan yang sama dan tujuan bersama yang perlu dijaga.” 


Pada titik ini, kebersamaan tidak lagi dipahami sebagai keseragaman. Kita tidak harus memiliki latar belakang yang sama untuk bekerja sama. Kita tidak harus menyukai semua tradisi orang lain untuk menghormatinya. Kita juga tidak harus menghilangkan identitas kelompok sendiri agar dapat menerima identitas kelompok lain. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk melihat manusia di balik identitas kelompoknya.

 

Dalam kehidupan sosial, kita sering kali lebih cepat mengenali label daripada pribadi. Kita melihat seseorang sebagai anggota kelompok tertentu sebelum mengenalnya sebagai individu. Padahal, pengalaman manusia jauh lebih kompleks daripada label yang melekat padanya. 


Karena itu, perjalanan dari perbedaan menuju kebersamaan sesungguhnya merupakan perjalanan psikologis yaitu dari prasangka menuju pemahaman, dari jarak menuju interaksi, dan dari sekadar mengetahui keberadaan kelompok lain menuju kesediaan untuk hidup berdampingan. 


Masyarakat multikultural tidak membutuhkan manusia yang semuanya sama. Yang dibutuhkan adalah manusia yang mampu berbeda tanpa harus saling meniadakan. Pada akhirnya, kebersamaan bukanlah keadaan ketika perbedaan telah hilang. Kebersamaan adalah kemampuan untuk tetap berjalan bersama meskipun kita datang dari latar belakang yang berbeda. 


Sebab, masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang tanpa perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengubah perbedaan menjadi alasan untuk saling mengenal, bekerja sama, dan menjaga kehidupan bersama. (**)

LIPSUS