-->
Cari Berita

Breaking News

PTPN Group Dukung Lampung Menuju Pusat Cassava Nasional

Dibaca : 0
 
Senin, 14 September 2026

 Seminar Nasional Cassava bertema "Menuju Lampung sebagai Pusat Cassava Nasional" di Ruang Sidang Utama Rektorat Unila. Foto: Ist.

INILAMPUNGCOM — Holding PTPN Group menyiapkan lahan seluas 10 ribu hektare di Lampung untuk mendukung program pengembangan singkong sebagai bagian dari ekosistem agroindustri nasional.


Komitmen itu disampaikan Regional Head PTPN I (Persero) Regional 7 Iyan Heryanto, mewakili PTPN Group, dalam Seminar Nasional Cassava bertema "Menuju Lampung sebagai Pusat Cassava Nasional" di Ruang Sidang Utama Rektorat Unila, Selasa (8/9/2026).


Seminar digelar LPPM Unila sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61 Unila. Dalam pemaparannya, Iyan mengatakan Lampung ditetapkan sebagai fokus pengembangan tahap awal dengan luasan sekitar 10 ribu hektare.


Penetapan Lampung sebagai lokasi pengembangan didasarkan pada posisinya sebagai salah satu sentra utama produksi singkong nasional. Pada 2024, produksi singkong Lampung disebut mencapai 7,91 juta ton atau 47,32 persen dari total produksi nasional sebesar 16,71 juta ton.


"Pengembangan dilakukan melalui kolaborasi BUMN, swasta, dan mitra strategis. Investasi difokuskan pada on farm berupa penanaman baru dan off farm berupa revitalisasi serta pembangunan pabrik bioetanol," ujar Iyan.


Pengembangan dilakukan melalui pola inti swakelola PTPN serta pola kemitraan bersama swasta dan asosiasi petani. PTPN akan berperan sebagai penyedia lahan, pengelola program, sekaligus penyedia bahan baku (feedstock) untuk industri bioetanol.


Hasil ground checking bersama Kementerian Pertanian, dinas provinsi dan kabupaten, serta Grup PTPN mencatat potensi areal pengembangan di Lampung mencapai sekitar 10 ribu hektare. Lahan tersebut tersebar di unit kebun PTPN di Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Way Kanan.


Untuk hilirisasi, pengembangan diarahkan untuk mendukung revitalisasi Pabrik Bioetanol PT Medco Ethanol Lampung (MEL) melalui kerja sama dengan Pertamina PNRE.


Selain itu, PTPN juga menyiapkan pembangunan pabrik bioetanol baru di wilayah Sulawesi. Program tersebut saat ini masih dalam tahap feasibility study, pelaksanaan demo plot, dan finalisasi skema kerja sama dengan calon mitra yang telah menyatakan minat kepada PTPN.


Meski produksi singkong nasional cukup besar, Indonesia masih mengimpor pati berbasis singkong senilai USD 162,38 juta pada 2024. Sebanyak 93,59 persen impor tersebut berasal dari Thailand.


"Kondisi ini menunjukkan pengembangan ke depan tidak hanya di hulu, tetapi harus ke arah hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing agroindustri singkong nasional," jelas Iyan.


Rektor Universitas Lampung Lusmeilia Afriani mengatakan Lampung sangat strategis untuk dikembangkan sebagai pusat cassava nasional. Berdasarkan data yang disampaikannya, produksi singkong Lampung pada 2024 mencapai 6.683.758 ton atau 34,63 persen dari total produksi nasional.


Potensi tersebut didukung ketersediaan lahan, industri pengolahan, pelaku usaha, perguruan tinggi, serta jaringan pemerintah daerah.


Menurut Lusmeilia, besarnya potensi tersebut perlu diikuti langkah pengembangan yang lebih terpadu. Singkong tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga memiliki peluang besar sebagai bahan baku industri, pakan, bioenergi, pangan, serta berbagai produk hilirisasi bernilai ekonomi tinggi.


"Mari bersama kita wujudkan Lampung tidak hanya sebagai sentra produksi, tetapi tumbuh menjadi Pusat Cassava Nasional yang inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan," ujar Lusmeilia. (mfn/rls)

LIPSUS