-->
Cari Berita

Breaking News

Ustaz Das'ad Latif Bicara Sepohon Kurma

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Selasa, 29 September 2026

 


Catatan Junaidi Jamsari 

Pengajian Akbar HUT ke-35 Kabupaten Lampung Barat yang menghadirkan Ustaz Das'ad Latif berlangsung khidmat di Masjid Bintang Emas, Kawasan Sekuting Terpadu, Liwa, Selasa pagi, 29 September 2026.


Acara yang dihadiri sekitar 5.000 jamaah tersebut, juga dihadiri Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, Bupati Parosil Mabsus, unsur Forkopimda, Ketua DPRD, dan jajaran pejabat provinsi serta kabupaten.


Dalam sambutannya, Bupati Parosil menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pengajian akbar ini. Sementara Ustaz Das'ad Latif membuka tausiyahnya dengan kisah inspiratif Sahabat Nabi, Abu Ayyub Al-Anshari RA, tentang filosofi sepohon kurma.


Refleksi Kelaparan di Madinah

Di hadapan jamaah, Ustaz Das’ad Latif mengisahkan suatu masa saat Kota Madinah dilanda cuaca ekstrem yang memicu kelaparan. Rasulullah SAW keluar rumah dan bertemu dengan dua sahabat utama, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, yang ternyata mengalami kondisi serupa. Tiga pemimpin besar umat ini berjalan bersama menahan lapar, hingga akhirnya singgah di kediaman Abu Ayyub al-Anshari RA.


Demi memuliakan tamunya, Abu Ayyub tidak sekadar menyuguhkan petikan buah kurma. Ia memotong satu tandan kurma besar langsung dari pohonnya—menyajikan buah yang matang, mengkal, dan mentah sekaligus agar para tamu dapat memilih yang terbaik—serta menyembelih seekor kambing muda.

Namun, pasca-jamuan tersebut, Rasulullah SAW justru menangis seraya bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh makanan (nikmat) ini akan ditanyakan kelak di hari kiamat."


Ustaz Das’ad menjelaskan bahwa para ulama mengorelasikan peristiwa ini dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Yasin ayat 65 mengenai hari di mana mulut terkunci, sementara tangan dan kaki memberikan kesaksian.


"Konsep teologis ini menegaskan bahwa segala bentuk nikmat, bahkan yang bersumber dari zat yang halal dan diberikan secara ikhlas, tetap akan melalui proses pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta," ujarnya.


Relevansi Etika bagi Birokrasi

Melalui pendekatan retorika yang penuh kesantunan namun tegas, Ustaz Das’ad Latif mengontekstualisasikan kisah tersebut ke dalam realitas dunia birokrasi kontemporer. Ia menekankan prinsip mendasar bahwa jika harta yang jelas kehalalannya saja melalui proses audit akhirat yang begitu ketat, sudah sepatutnya semua pihak lebih berhati-hati dalam menjaga amanah serta menggunakan fasilitas publik.


Filosofi tindakan Abu Ayyub yang memberikan kurma terbaik dinilai mencerminkan prinsip totalitas dalam memberi dan menolak sikap kikir. Nilai keteladanan ini dijabarkan sangat selaras dengan implementasi nilai luhur daerah Lampung Barat:


* Setawitan (Satu Tujuan): Menyelaraskan visi untuk memberikan pelayanan publik yang prima dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

* Seuyunan (Satu Arah): Memastikan tata kelola sumber daya dan rezeki aparatur sipil negara senantiasa berjalan di atas koridor yang legal, halal, dan akuntabel.

* Sehangguman (Satu Rasa): Menumbuhkan empati sosial yang tinggi terhadap kondisi masyarakat guna menjaga hak-hak publik.

* Maju Jejama (Maju Bersama): Membangun daerah dengan semangat kontribusi yang optimal bagi kemajuan kolektif, bukan untuk keuntungan pribadi.


Memasuki usia kematangan 35 tahun, Kabupaten Lampung Barat dinilai membutuhkan aparatur yang semakin bijaksana dalam mengelola sarana dan prasarana daerah. Daerah ini merindukan figur pemimpin dan pejabat yang mengadopsi karakter Abu Ayyub al-Anshari yang mengedepankan dedikasi serta integritas tinggi untuk masyarakat.


Pengajian akbar ini diakhiri dengan sebuah pesan komitmen kolektif bagi para pemangku kebijakan untuk menjaga integritas dan bertanggungjawab penuh atas setiap amanah kekuasaan yang diemban, baik secara hukum maupun teologis. (**)

LIPSUS