Oleh: Junaidi Jamsari -Penulis tinggal di Lampung Barat
Kita pasti sudah pernah mendengar kata ‘zalim’. Dalam ajaran agama Islam sifat zalim dipandang sebagai sifat yang sangat tercela.
Mengapa zalim adalah sifat yang tercela? Salah satu cara memahaminya adalah dengan melihat lawan katanya. Lawan kata dari sifat zalim adalah adil. Adil adalah salah satu sifat Allah. Adil berarti menempatkan segala sesuatu secara objektif sesuai dengan hak dan kompetensinya.
Allah SWT merupakan hakim yang paling adil. Dia memiliki hikmah serta kebijaksanaan paling tinggi, sehingga tidak ada satu pun makhluk yang terzalimi.
Sebagai hamba-Nya, manusia juga diwajibkan untuk bersikap adil. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90).
Dengan selalu bersikap adil, jiwa kita akan terasa tenang. Sebaliknya, jika manusia memilih untuk berbuat tidak adil atau zalim, jiwanya akan selalu merasa bersalah, tidak tenang, dan dihadapkan pada kerugian yang sangat besar.
Menurut KBBI, zalim adalah orang yang melakukan perbuatan aniaya yang merugikan dirinya sendiri dan/atau orang lain. Sifat zalim terbagi menjadi beberapa tingkatan:
1. Zalim sebagai kemungkaran:
Perbuatan dosa yang merusak kehidupan pribadi, keluarga, serta masyarakat karena sifatnya yang menyesatkan dan menyengsarakan.
2. Zalim terhadap Allah (Syirik):
Perbuatan menyekutukan Allah atau mengingkari keesaan-Nya. Dosa syirik ini tidak akan diampuni jika pelakunya tidak bertobat sebelum wafat.
3. Zalim terhadap diri sendiri:
Melakukan dosa sekecil apa pun, karena dosa tersebut pada hakikatnya mengotori dan merugikan diri sendiri.
4. Zalim terhadap sesama manusia:
Perilaku kasar, bermusuhan, mengambil hak orang lain, dan menyakiti perasaan sesama yang dapat merusak tatanan masyarakat.
Sifat Kerugian Orang Zalim.
Karena sifatnya yang merusak, orang-orang yang memilih jalan kezaliman—baik zalim kepada Allah, diri sendiri, maupun sesama—akan memikul empat kerugian utama yang nyata di dunia dan akhirat:
1. Terhalang dari Petunjuk Allah (Rugi Hidayah):
Orang yang terus-menerus berbuat zalim hatinya akan terkunci dari menerima kebenaran. Mereka akan terus tersesat dalam kegelapan, karena Allah menahan petunjuk-Nya dari mereka.
“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma'idah: 51).
2. Terhapusnya Pahala Kebaikan (Bangkrut di Akhirat):
Di akhirat kelak, pelaku zalim akan menjadi orang yang muflis (bangkrut). Segala pahala ibadahnya di dunia (seperti salat dan puasa) akan diambil untuk membayar ganti rugi kepada orang-orang yang pernah dizalimi.
Jika pahalanya habis, dosa orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.
3. Doanya Ditolak dan Mengundang Doa Buruk:
Pelaku kezaliman tidak akan mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah. Di sisi lain, doa dari orang-orang yang mereka aniaya adalah doa yang paling mustajab (dikabulkan) tanpa ada penghalang. Doa tertindas tersebut akan menjadi bumerang yang menghancurkan hidup pelaku zalim.
4. Mengalami Kegelapan yang Berlapis pada Hari Kiamat:
Kezaliman yang dilakukan di dunia akan berwujud menjadi kegelapan yang pekat di akhirat. Mereka tidak akan memiliki cahaya untuk menuntun jalannya, melainkan kesengsaraan yang bertumpuk. Rasulullah SAW bersabda:
“Takutlah kalian akan kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Sifat adil membawa ketenangan jiwa, sedangkan sifat zalim hanya membuahkan kegelisahan hati di dunia serta kebangkrutan yang nyata di akhirat. Sebagai umat Muslim, kita harus senantiasa berusaha untuk bersikap adil dalam segala hal, serta menjauhi dan mencegah segala bentuk sikap zalim. (**)

