-->
Cari Berita

Breaking News

Antara Disiplin dan Empati: Ketika Sekolah Harus Memahami, Bukan Sekadar Menghukum

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Minggu, 18 Oktober 2026



Oleh: Annisa Amelia -Mahasiswa Tadris Matematika UIN Jurai Siwo Lampung

 

Dunia pendidikan tidak pernah lepas dari persoalan kedisiplinan. Di sekolah, kita sering mendengar siswa yang dianggap sulit diatur, sering melanggar tata tertib, tidak memperhatikan pelajaran, atau bahkan berani membantah guru. Perilaku semacam ini kerap menjadi alasan munculnya teguran dan hukuman. 


Namun, di tengah tuntutan untuk membentuk siswa yang disiplin, ada satu pertanyaan penting yang patut direnungkan: apakah setiap perilaku siswa yang bermasalah harus selalu diselesaikan dengan hukuman?

Pertanyaan ini menjadi relevan ketika masyarakat kembali memperbincangkan cara mendisiplinkan peserta didik. Ada yang berpendapat bahwa siswa perlu diberikan tindakan tegas agar tidak kehilangan rasa hormat kepada guru. Sebaliknya, ada pula yang menilai bahwa pendekatan yang terlalu keras justru dapat menimbulkan ketakutan dan memperburuk hubungan antara guru dan siswa. 


Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa kedisiplinan bukan sekadar persoalan menaati aturan. Di dalamnya terdapat persoalan psikologis, perkembangan emosi, pembentukan karakter, dan hubungan sosial yang memengaruhi perilaku peserta didik.


Sulit Diatur Belum Tentu Tidak Mau Belajar


Di lingkungan sekolah, siswa yang sering membuat masalah biasanya lebih mudah mendapatkan perhatian daripada siswa yang selalu tertib. Sayangnya, perhatian tersebut tidak selalu disertai upaya untuk memahami penyebab perilakunya. Siswa yang sering mengobrol saat pelajaran, terlambat mengumpulkan tugas, atau menunjukkan sikap tidak peduli, terkadang langsung dicap sebagai anak malas. Padahal, perilaku yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan keseluruhan keadaan yang dialaminya.


Seorang siswa mungkin kehilangan semangat belajar karena kesulitan memahami materi. Siswa lainnya bisa mengalami tekanan akibat tuntutan akademik, masalah pertemanan, atau kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Ada pula siswa yang belum mampu mengendalikan emosi sehingga kesulitan menyampaikan ketidaknyamanan dengan cara yang tepat.


Dalam perspektif psikologi pendidikan, perilaku siswa perlu dipahami sebagai bagian dari proses perkembangan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karena itu, guru tidak cukup hanya menilai apa yang dilakukan siswa, tetapi juga perlu mempertimbangkan keadaan yang mungkin melatarbelakanginya.


Disiplin Bukan Berarti Membuat Siswa Takut


Selama ini, kedisiplinan terkadang masih dipahami sebagai kepatuhan terhadap perintah guru. Siswa dianggap disiplin ketika diam, mengikuti instruksi, dan tidak membantah. Padahal, siswa yang diam karena takut, belum tentu memahami alasan di balik aturan yang harus dipatuhinya. Disiplin yang baik seharusnya membantu siswa membangun kesadaran untuk mengendalikan diri, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihannya. 


Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan hanya menciptakan siswa yang patuh ketika diawasi, melainkan membentuk pribadi yang mampu melakukan hal benar karena memahami nilai dan konsekuensinya.

Ketegasan dan empati bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Guru dapat menolak perilaku yang tidak pantas tanpa menghina orang yang melakukannya. Siswa dapat diberikan konsekuensi atas pelanggaran tanpa dipermalukan di hadapan teman-temannya. 


Dengan kata lain, yang perlu dikoreksi adalah perilakunya, bukan harga diri anaknya. Guru memiliki peran penting dalam membangun suasana belajar yang aman sekaligus tertib. Akan tetapi, tugas tersebut tidak selalu mudah. Guru menghadapi kelas dengan karakter, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. 


Di satu sisi, guru harus memastikan pembelajaran berjalan dengan baik. Di sisi lain, guru juga perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki proses perkembangan yang tidak sama. Karena itu, pendekatan yang digunakan untuk menghadapi siswa sebaiknya tidak selalu seragam.

Ketika siswa melanggar aturan, guru dapat menjelaskan kesalahan yang dilakukan, alasan aturan tersebut diperlukan, serta konsekuensi yang harus diterima. 


Jika pelanggaran terjadi berulang kali, guru dapat mengajak siswa berbicara secara pribadi untuk mengetahui penyebabnya. Apabila diperlukan, guru juga dapat bekerjasama dengan wali kelas, guru bimbingan dan konseling, serta orang tua.

Setelah penyebabnya diketahui, guru dapat menentukan langkah yang sesuai. Siswa yang belum memahami materi mungkin membutuhkan pendampingan belajar, sedangkan siswa yang kesulitan mengatur waktu dapat dibantu menyusun kebiasaan belajar yang lebih teratur. 


Pendekatan seperti ini bukan berarti guru kehilangan wibawa. Justru, guru menunjukkan bahwa ketegasan dapat berjalan bersama sikap adil, komunikasi yang baik, dan tanggung jawab profesional.


Membicarakan empati terhadap siswa tidak berarti menempatkan seluruh kesalahan pada guru atau sekolah. Peserta didik juga memiliki tanggung jawab untuk menghormati orang lain, mengikuti aturan yang berlaku, dan memperbaiki perilaku ketika melakukan kesalahan. Empati bukan berarti membiarkan pelanggaran. Sebaliknya, empati membantu guru memahami keadaan siswa agar pembinaan yang diberikan lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pendidikan.


Ketika siswa melakukan kesalahan, ia perlu memahami dampak tindakannya terhadap orang lain. Jika perilakunya merugikan teman, misalnya, ia perlu belajar mengakui kesalahan dan memperbaiki akibat yang ditimbulkan. Jika ia mengganggu proses pembelajaran, ia perlu memahami bahwa tindakannya juga memengaruhi hak teman-temannya untuk belajar dengan nyaman.


Orang tua pun memiliki peran yang tidak kalah penting. 


Pembentukan kedisiplinan tidak cukup dilakukan di sekolah apabila tidak didukung oleh kebiasaan dan komunikasi di rumah. Guru dan orang tua perlu membangun kerja sama agar anak menerima arahan yang konsisten, sekaligus memiliki ruang untuk menyampaikan kesulitan yang dihadapinya.


Sekolah Menjadi Tempat Bertumbuh, Bukan Tempat Menghakimi


Sekolah idealnya menjadi tempat siswa belajar, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan mengembangkan potensi. Dalam proses tersebut, kesalahan tidak seharusnya langsung menjadi alasan untuk memberikan cap negatif yang melekat pada diri siswa.


Label seperti “nakal”, “malas”, atau “sulit diatur” dapat membuat orang dewasa hanya melihat kekurangan anak dan mengabaikan kemungkinan perubahan. 


Padahal, perilaku seseorang dapat berkembang ketika ia memperoleh bimbingan, kesempatan memperbaiki diri, dan lingkungan yang mendukung. Hal ini bukan berarti sekolah harus mengabaikan aturan demi menjaga perasaan siswa. Sekolah tetap membutuhkan tata tertib yang jelas, konsekuensi yang proporsional, serta perlindungan bagi seluruh warga sekolah. Guru juga berhak mendapatkan penghormatan dan perlindungan ketika menghadapi perilaku siswa yang melampaui batas.


Yang perlu dibangun adalah budaya sekolah yang tidak membenarkan penghinaan atau kekerasan, baik terhadap siswa maupun guru. Konflik perlu ditangani secara adil dengan melihat fakta, mendengarkan pihak-pihak terkait, dan menentukan langkah penyelesaian yang mendidik. 


Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa patuh siswa terhadap perintah atau seberapa sedikit pelanggaran yang terjadi. Keberhasilan juga perlu dilihat dari kemampuan siswa mengelola emosi, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan memperbaiki kesalahan.


Disiplin tetap penting, tetapi disiplin tanpa pemahaman berisiko hanya menghasilkan kepatuhan sementara. Empati tetap diperlukan, tetapi empati tanpa batasan dapat membuat aturan kehilangan makna. Keduanya harus berjalan beriringan.


Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang membiarkan siswa melakukan apa saja, tetapi pendidikan yang mampu mengarahkan mereka tanpa merendahkan martabatnya. Guru tidak harus memilih antara bersikap tegas atau bersikap peduli. Keduanya dapat dilakukan secara bersamaan. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat siswa takut melakukan kesalahan, melainkan membantu mereka memahami kesalahan, bertanggung jawab atas tindakannya, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. (**)

LIPSUS