Oleh: Chika Zahwa Aura - Mahasiswi UIN Jurai Siwo Lampung
Setiap memasuki bulan Agustus, suasana di lingkungan masyarakat mulai terasa berbeda. Banyak bendera mulai berkibar, gapura dihias warna-warni, dan berbagai perlombaan mulai direncanakan untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Tapi di balik semarak itu, ada sekelompok anak muda yang bekerja di balik layar, memastikan semuanya berjalan lancar.
Di lingkungan tempat tinggal saya, kepanitiaan 17 Agustus melibatkan sekitar 25 anak muda, mulai dari siswa SMA kelas XII hingga mahasiswa. Persiapannya dimulai dari rapat bersama, di mana pemuda duduk dengan aparat kampung dan kepala dusun untuk membicarakan rangkaian acara yang akan digelar. Dalam rapat ini, para pemuda tidak hanya sekadar menjadi pelaksana, mereka diberi ruang untuk bersuara, memberi masukan, dan ikut menentukan arah kegiatan. Suasananya pun tidak kaku, malah cenderung santai, dan justru dari obrolan yang santai itu ide-ide bermunculan.
Jika dilihat sekilas, kegiatan ini mungkin hanya terlihat seperti persiapan acara tahunan biasa. Tapi bagi para pemuda yang terlibat, kepanitiaan 17 Agustus ternyata memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar mengurus perlombaan. Ada proses belajar untuk berkomunikasi, bekerja sama, bertanggung jawab, dan berani menyampaikan pendapat. Bahkan, beberapa anak muda yang awalnya cenderung pendiam dan jarang bersosialisasi mulai menunjukkan perubahan setelah terlibat dalam kepanitiaan.
Anggota kepanitiaan tersebut memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian sudah pernah mengikuti kepanitiaan sebelumnya, sedangkan sebagian lainnya baru pertama kali terlibat. Tugas dibagi sesuai kebutuhan, ada ketua, wakil, sekretaris, bendahara, MC, seksi perlengkapan, konsumsi, dokumentasi, hingga penanggung jawab lomba. Meski tugasnya berbeda-beda, semua tetap harus saling berkomunikasi dan bahu-membahu agar acara berjalan sesuai rencana.
Yang menarik, di setiap rapat semua anggota memiliki kesempatan yang sama untuk bersuara. Mereka diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan memberikan saran. Perbedaan pandangan pun beberapa kali muncul, tetapi perbedaan itu dapat diselesaikan melalui musyawarah. Tanpa disadari, dari situ anggota belajar dua hal sekaligus,
menyampaikan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain. Perlahan, mereka yang tadinya pendiam pun mulai berani angkat bicara dan lebih terbuka bersosialisasi.
Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan sosial, seperti komunikasi efektif, kerja sama tim, dan kemampuan beradaptasi, dapat dikembangkan melalui keterlibatan dalam kegiatan organisasi (Triana et al., 2024). Rapat, diskusi, dan berbagai aktivitas bersama dapat menjadi ruang bagi anggota untuk mengembangkan keterampilan sosial.
Kegiatan ini juga membuat anggota berhadapan langsung dengan masyarakat. Para pemuda tidak hanya mengurus urusan internal panitia tetapi mereka juga perlu berkomunikasi dengan warga saat pelaksanaan acara. Dari sinilah muncul pengalaman yang mungkin tidak akan didapat hanya dari bangku kuliah atau sekolah. Setiap anggota belajar memahami tugasnya masing-masing, menyelesaikan tanggung jawab, dan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki karakter dan pendapat yang berbeda-beda.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa kepanitiaan 17 Agustus bisa menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada setiap anggota. Ketika seseorang diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, secara tidak langsung mereka belajar untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Ini semakin terlihat jelas ketika anggota yang sebelumnya cenderung pendiam, perlahan mulai berani berbicara dalam rapat maupun berinteraksi dengan orang lain.
Penelitian juga menunjukan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan organisasi, termasuk rapat dan kepanitiaan, dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi public (Sasmita, 2026). Organisasi digambarkan sebagai ruang sosial tempat seseorang belajar menghadapi tantangan, menyampaikan gagasan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Selain kepercayaan diri, kepanitiaan in juga memberikan kesempatan bagi anak muda untuk melatih kemampuan sosial dan komunikasi. Sebab dalam menjalankan kegiatan, setiap anggota tidak dapat bekerja sendiri. Mereka harus berkoordinasi dengan anggota lain, menyampaikan informasi, mendengarkan pendapat, serta berkomunikasi dengan masyarakat. Interaksi yang terus-menerus ini lama-lama membuat mereka terbiasa berhadapan dengan orang lain dan menyuarakan apa yang ada di pikiran mereka.
Penelitian yang telah dilakukan juga menginformasikan bahwa aktivitas organisasi berpengaruh pada keterampilan sosial mahasiswa, mulai dari kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, menghargai pendapat, sampai bersikap asertif (Maulana et al., 2023).
Temuan ini terasa relevan dengan apa yang terjadi di kepanitiaan 17 Agustus. Beberapa anggota yang dulunya pendiam dan jarang menyapa, kini lebih sering berinteraksi, berani menyuarakan pendapat di rapat, dan aktif berkomunikasi baik dengan sesama panitia maupun warga. Pengalaman ini menjadi ruang latihan nyata bagi kemampuan interpersonal mereka.
Di sisi lain, pembagian tugas dalam kepanitiaan juga mengajarkan arti tanggung jawab. Setiap anggota memiliki peran yang harus dijalankan dan keberhasilan suatu kegiatan tidak hanya bergantung pada ketua, melainkan kerja sama seluruh anggota. Ketika seseorang menyelesaikan tugas yang diberikan, ia belajar bahwa tindakannya berpengaruh terhadap anggota lain dan jalannya kegiatan secara keseluruhan.
Tentu saja, semua ini tidak berjalan tanpa hambatan. Menjadi panitia berarti siap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari membagi waktu antara kepanitiaan dan tugas sekolah atau kuliah, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, hingga sesekali menerima komentar kurang menyenangkan dari masyarakat. Tapi justru dari situ, anak muda belajar mengelola konflik, berkomunikasi dengan kepala dingin, dan mencari solusi bersama.
Pada akhirnya, kepanitiaan 17 Agustus bisa dilihat sebagai kelas tanpa dinding. Anak muda tidak sekedar belajar mensukseskan sebuah acara, tapi juga belajar mengenali diri sendiri, menghadapi perbedaan, berkomunikasi dengan orang lain, dan bertanggung jawab atas apa yang menjadi tugasnya. Sejumlah riset tentang organisasi kemahasiswaan pun menegaskan hal serupa, pengalaman berorganisasi membuka akses pada keterampilan yang tidak sepenuhnya bisa didapat dari pendidikan formal di kelas.
Kegiatan 17 Agustus memang hanya berlangsung sesaat, tapi pengalaman yang tertinggal darinya bisa menjadi bagian penting dari proses tumbuh anak muda. Dari rapat yang diwarnai perbedaan pendapat, pembagian tugas, interaksi dengan warga, sampai berbagai kendala yang dihadapi, semuanya menyimpan pelajaran tersendiri.
Bagi sebagian orang, jadi panitia 17an mungkin hanya dianggap kegiatan tahunan yang biasa saja. Tapi bagi mereka yang benar-benar terlibat, ini adalah kesempatan untuk bertumbuh. Dari niat awal yang sederhana, sekadar menyukseskan acara 17-an, ternyata lahir proses belajar mengenal orang lain, memberanikan diri untuk bicara, bertanggung jawab, dan
memahami kemampuan diri sendiri. Karena pada akhirnya, panitia 17-an bukan cuma soal bagaimana sebuah acara bisa terlaksana, tapi juga soal bagaimana pengalaman itu ikut membentuk perjalanan anak muda di tengah masyarakatnya.(**)

