-->
Cari Berita

Breaking News

Bukan Cuma Transfer Ilmu: Kata dan Sikap Membentuk Masa Depan

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Jumat, 16 Oktober 2026

 


Oleh: Lulu Ul Karimah -Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung


Fungsi ruang kelas sesungguhnya tidak sekadar tempat penyampaian materi pelajaran oleh guru kepada murid. Interaksi sehari-hari antara guru dan murid juga turut membentuk karakter, sikap, dan pola pikir anak. Sikap guru saat berbicara, menjawab pertanyaan, dan menerapkan aturan sangat memengaruhi cara berperilaku anak. Jika komunikasi terjalin dengan baik antara guru dan murid, proses belajar akan terasa lebih ringan dan tumbuh menjadi kebiasaan yang positif. 


Pola Penyampaian Verbal dan Keterbukaan Diskusi


Pilihan kata yang digunakan oleh guru saat memberikan umpan balik sangat memengaruhi kepercayaan diri murid dalam menyampaikan pendapat (masyitoh dkk., 2024). Jika guru merespons dengan kritikan destruktif saat murid membuat kesalahan, maka anak akan cenderung menarik diri dan membentuk kebiasaan pasif. 


Begitupun sebaliknya, penyampaian verbal yang suportif menciptakan ruang aman dan mendorong siswa untuk mencoba tanpa rasa takut. Selain itu, kejelasan instruksi guru saat menyampaikan tugas melatih kedisiplinan dan rasa tanggung jawab murid terhadap kewajiban akademiknya. 


Sikap Nonverbal dan Pengaruh Model Perilaku


Murid merupakan pengamat yang sangat teliti di dalam kelas. Bahasa tubuh, sikap, dan tindakan diserap oleh anak secara langsung. Guru dipandang sebagai sosok yang lebih dewasa dari muridnya, sehingga mereka memandang guru sebagai teladan saat bertindak dan berperilaku (Salsabilah dkk,. 2021). Akhirnya, semua gerak-gerik yang dilakukan guru secara konsisten akan menjadi pola yang ditiru murid, lalu perlahan membentuk cara mereka berinteraksi dan merespons lingkungan di sekitarnya. 


Komunikasi yang baik tidak hanya berfokus pada cara berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan secara aktif. Saat guru bersedia mendengarkan murid dengan sepenuh hati, murid merasa dianggap dan dihargai (Inda, 2024). Hal ini menimbulkan respons positif dalam diri murid, keyakinan dan dukungan yang disampaikan guru melalui sikap empati akan mendorong mereka untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar. 


Rasa percaya diri yang tumbuh dari interaksi ini lambat laun berubah menjadi kebiasaan belajar yang tekun. 

Pembentukan karakter dan kebiasaan siswa bukanlah melalui proses yang instan. Semua terbangun dari interaksi-interaksi sederhana setiap hari di kelas. Guru memegang peran penting dalam membentuk seuasana belajar yang inklusif melalui pola penyampaian yang tepat, sikap empati, dan bertutur kata yang santun. 


Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan sekadar menuntaskan isi buku pelajaran, tetapi juga membangun komunikasi yang membuat murid senang dan nyaman belajar kapan pun. (**)

LIPSUS