Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA /Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
Humor kerap digunakan dalam ceramah untuk mencairkan suasana dan mendekatkan pendakwah dengan jamaah. Namun, humor dapat berubah menjadi persoalan ketika merendahkan martabat orang lain. Polemik ceramah Habib Alwi Assegaf yang diberitakan detikHikmah pada 23 Oktober 2026 menjadi contoh nyata.
Potongan video ceramahnya menuai kritik setelah memuat kelakar mengenai santriwati dan jamaah perempuan lanjut usia yang dinilai merendahkan perempuan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan agar masyarakat tidak lagi mengundang penceramah tersebut, sementara Kementerian Agama mengingatkan pentingnya menjaga etika dan kesantunan dalam dakwah (detikHikmah, 2026).
Peristiwa ini mengajak kita merefleksikan bahwa niat bercanda tidak otomatis membenarkan dampak sebuah ucapan. Dalam psikologi komunikasi, pesan tidak hanya dinilai berdasarkan maksud pembicara, tetapi juga berdasarkan cara penerima menafsirkan dan merasakan pesan tersebut. Karena itu, pendakwah perlu menyadari bahwa humor yang mengundang tawa sebagian jamaah bisa menimbulkan rasa malu atau tersinggung pada orang lain.
Humor dalam Perspektif Psikologi Komunikasi
Humor yang sehat dapat membangun keakraban, mengurangi ketegangan, dan membantu audiens mengingat pesan. Sebaliknya, humor yang menjadikan fisik, usia, gender, atau kelemahan seseorang sebagai bahan olok-olok berpotensi menciptakan luka psikologis dan merusak kepercayaan. Kajian mengenai humor intelligence dalam jurnal Current Opinion in Psychology (2024) menyoroti pentingnya kemampuan menghasilkan humor, mengenali humor, dan memperkirakan respons orang lain terhadapnya. Perspektif ini menunjukkan bahwa kecakapan melucu bukan hanya soal spontanitas, melainkan juga kemampuan membaca konteks sosial dan memahami kemungkinan reaksi audiens.
Dalam dakwah, pendakwah berhadapan dengan jamaah yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan sensitivitas berbeda. Oleh sebab itu, humor sebaiknya digunakan untuk menjelaskan pesan atau mencairkan suasana, bukan menjadikan seseorang sebagai objek tertawaan. Ukuran keberhasilan humor bukan semata-mata banyaknya orang yang tertawa, tetapi juga apakah suasana tetap menghormati semua pihak.
Batas Etis Berdakwah
Kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri, sekaligus memahami perasaan orang lain. Dalam praktik dakwah, kemampuan ini membantu penceramah mengendalikan ucapan spontan, memilih kata yang tepat, dan mempertimbangkan konsekuensi sosial dari candaan. Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11 agar suatu kaum tidak mengolok-olok kaum lain, karena boleh jadi pihak yang diolok-olok lebih baik daripada mereka.
Prinsip ini memberikan landasan etis bahwa humor tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan kehormatan manusia. Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47). Hadis ini mengingatkan bahwa menjaga lisan merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang muslim.
Secara praktis, pendakwah dapat menerapkan tiga langkah sebelum melontarkan humor yaitu menilai apakah candaan merendahkan seseorang, mempertimbangkan kesesuaian dengan situasi dan karakter audiens, serta memperkirakan dampak emosionalnya. Apabila candaan telanjur melukai, sikap terbuka untuk meminta maaf dan memperbaiki komunikasi merupakan wujud kedewasaan emosional.
Tanggung jawab ini juga berlaku bagi masyarakat. Kritik terhadap ucapan yang dianggap tidak pantas perlu disampaikan secara proporsional, berlandaskan fakta, dan tidak berubah menjadi penghinaan pribadi. Dengan demikian, evaluasi etika dapat berlangsung tanpa memperluas permusuhan.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa humor bukan sesuatu yang harus dihilangkan dari dakwah. Jika digunakan secara bijaksana, humor dapat memperkuat kedekatan dan membantu penyampaian pesan agama. Namun, niat baik perlu disertai kesadaran terhadap dampak perkataan. Esensi dakwah adalah mengajak kepada kebaikan melalui cara yang baik. Pendakwah tidak hanya bertanggung jawab atas isi pesan, tetapi juga atas cara penyampaiannya.
Dakwah yang beretika bukan sekadar membuat jamaah tertawa, melainkan menyentuh hati, mencerahkan pikiran, dan menjaga martabat manusia. Sebab, keberhasilan dakwah semestinya diukur bukan dari seberapa keras tawa terdengar, melainkan dari seberapa besar kebaikan tumbuh tanpa ada orang yang direndahkan. (**)

