-->
Cari Berita

Breaking News

In Memoriam K. Usman: Di Bawah Nisan, Kau Bawa Amal Ibadah dan Luka Sejarah

Dibaca : 0
 
Rabu, 14 Oktober 2026





Oleh Dr Tarech Rasyid


 
Kembang yang masih hijau baru saja tumbuh di halaman rumah di desa terpencil. Kau bagaikan kembang itu saat usia muda meniti menjadi seorang pengarang. Menulis di Mading sekolah dan koran di kota Prabumulih dan Palembang. Lalu, kau seperti akar kembang mencari sumber air. Manakala tulisanmu muncul, kau seperti bunga menyambut embun dan cahaya pagi dengan ribang.

Ketika meranjak dewasa, kau tak lagi seperti kembang, melainkan bagaikan burung Rajawali yang mengepakan sayapnya melampaui badai derita di Ibukota. 
Mata hatimu sumber air yang mengeluarkan kata-kata:
Tentang cinta
Tentang kejujuran
Tentang kebenaran
Tentang keadilan
Tentang kemanusiaan
Tentang ketuhanan.

Mata hatimu tajam melihat Sang Jenderal dan anak buahnya melakukan praktik korupsi di Perusahaan Negara.   Isi hatimu pun tumpah bersamaan irama mesin tik tengah malam. Lalu, kata-katamu membentuk tulisan "Rayap-Rayap Hijau" . 
Tak lama kemudian, kau pun dikejar dan diburu rayap-rayap berwarna hijau itu.
Saat tertangkap, kau dilemparkan ke dalam sel selama dua tahun tanpa pengadilan, kecuali diberi stempel: orang kiri. 
Kau tampik cap itu,
Kau bilang dirimu Soekarnois dan  nasionalis.
Luka sejarah 
Perih menjerit dalam hatimu 
Tapi suaramu lenyap dalam timbunan curiga seperti kisah Dreyfus.
Dan keseharianmu dalam sel seperti Sisyphus, yang kehilangan harapan yang selalu memikul batu dipundaknya. Tanpa ia ketahui kapan berakhir hukuman para dewa.

Tuhan bukanlah dewa. 
Tuhan memberimu ujian seperti nabi Yunus yang ditelan ikan. 
Saat kau berdoa dalam Tahajudmu. Dia membuka pintu sel. Kau pun merdeka dari sel.
Lalu, kau tetap setia menggali sumur kata dalam hatimu hingga maut menjemputmu. Di bawah nisan,  kau bawa amal ibadah dan luka sejarah.

Palembang, 14 Oktober 2026.
 

LIPSUS