![]() |
| Sebaran asap dari karhutla di Dente Teledas, Tuba. (ist/inilampung) |
INILAMPUNGCOM - Masyarakat dan pemerintah di Provinsi Lampung jangan hilang kewaspadaan. Utamanya jangan menyepelekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Mengapa begitu serius? Karena sampai saat ini ancaman karhutla itu nyata. Setidaknya terdapat 471 titik panas (hotspot) yang terdeteksi di Provinsi Lampung.
Konsentrasi ancaman karhutla itu menyebar di tiga kabupaten, yakni Tulang Bawang, Mesuji, dan Lampung Tengah.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketiga kabupaten tersebut mencatat total 355 titik panas. Tulang Bawang (Tuba) menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 144 titik, disusul Mesuji 112 titik, dan Lampung Tengah sebanyak 99 titik.
Dikutip dari lampunggehnews.com, data tersebut tercantum dalam Peta Distribusi Titik Panas Provinsi Lampung yang diterbitkan Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung, pada hari Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 07.01 WIB.
Sementara lima kabupaten lainnya juga terpantau memiliki titik panas. Rinciannya, Lampung Timur sebanyak 32 titik, Way Kanan 30 titik, Lampung Selatan 22 titik, Lampung Utara 20 titik, dan Tulang Bawang Barat 12 titik.
Dari total 471 titik panas yang terdeteksi, BMKG mengelompokkan 414 titik dalam kategori tingkat kepercayaan menengah, 35 titik kategori rendah, dan 22 titik kategori tinggi.
Bandara Tetap Aman
Tingkat kepercayaan tersebut menunjukkan keyakinan terhadap hasil deteksi satelit. Karena itu, temuan titik panas tidak serta-merta membuktikan adanya kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan.
Selain memetakan persebaran titik panas, BMKG juga menganalisis jaraknya terhadap tiga bandara di Lampung, yakni Bandara Radin Inten II, Bandara Gatot Soebroto, dan Bandara Taufiq Kiemas.
Hasil analisis menunjukkan tidak ada titik panas yang terdeteksi dalam radius 5 Km dari ketiga bandara tersebut.
Namun, dalam radius 10 Km dari Bandara Gatot Soebroto, Way Kanan, terdapat titik panas di Kecamatan Blambangan Umpu, dengan jarak sekitar 8,04 kilometer dari bandara.
Titik tersebut terdeteksi oleh satelit SNPP pada pukul 13.35 WIB dengan tingkat kepercayaan rendah. Sementara tidak ada titik panas yang tercatat dalam radius 10 Km dari Bandara Radin Inten II maupun Bandara Taufiq Kiemas selama periode pemantauan.
Data satelit tersebut menjadi salah satu indikator untuk memantau persebaran titik panas di Lampung. Meski demikian, verifikasi di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan apakah titik panas tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. (zal/inilampung)

