-->
Cari Berita

Breaking News

Kemarau: Pesan Spiritual dari Al-A'raf

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 23 Oktober 2026

Oleh: Junaidi Jamsari  | Tinggal di Lampung Barat

Junaidi Jamsari

 "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 56-57)

Surat Al-A'raf ayat 56-57 itu adalah salah satunya yang menerangkan tentang turun hujan. Membasahi tanah yang kering, sekaligus mengingatkan kita akan kesadaran yang kering.

Ayat itu tidak hanya bicara tentang hujan. Ia bicara tentang siklus hidup. Tentang bagaimana Allah meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, menggiring awan ke tanah tandus, lalu menghidupkannya kembali. Tanah mati bisa hidup.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma sebuah peristiwa yang membuat ayat itu terasa sangat dekat.

Jabir bercerita: "Beberapa wanita mendatangi Rasulullah SAW sambil menangis (karena kekeringan), kemudian beliau berdoa; Allahummasqina ghaitsan mughitsan marii-an marii-an naafi-an ghaira dharrin 'aajilan ghaira aajilin (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang dapat menolong kami, yang menyenangkan, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, segera dan jangan ditunda-tunda). Seketika itu juga, langit menurunkan hujannya atas mereka.'" (HR. Abu Dawud: 988)

Saat Madinah Kering
Saat itu Madinah dilanda kemarau panjang. Bahasa Arab menyebutnya "al-qahth" atau "al-jadzb". Sumur-sumur mengering. Tanah mengeras. Kebun-kebun kurma rusak. Ternak kurus, lalu mati satu per satu.

Lalu mengapa yang datang menangis itu para wanita?

Karena dalam struktur sosial saat itu, ketika para suami harus pergi jauh mencari air dan menyelamatkan ternak yang sekarat, para wanitalah yang tinggal di rumah menanggung beban paling nyata. Air untuk memasak habis. Anak-anak kehausan. Dapur tidak mengepul.

Tangis mereka bukan tangis putus asa. Itu adalah istighatsah, aduan darurat kepada pemimpin yang mereka percaya punya kedekatan dengan langit.

Dan Rasulullah SAW tidak menunda. Beliau tidak berkata, "Tunggu hari Jum'at besok, kita akan salat Istisqa." Tidak. Saat itu juga, di tempat itu juga, beliau angkat tangan dan melangitkan doa. Dan langit menjawab seketika. Awan bergumpal, hujan turun, tangis berganti syukur.

Bagaimana dengan Kemarau Kita?

Dimana-mana kemarau, kita juga sedang kemarau. Tapi kemarau kita tidak hanya soal langit yang tidak menurunkan hujan. Kemarau kita adalah kemarau yang lebih panjang dan lebih rumit.

Hutan kita gundul karena izin tebang yang diobral. Daerah resapan air berubah menjadi kebun monokultur dan bangunan beton. Danau dan embung dibiarkan dangkal karena tidak pernah dikeruk. Ketika hujan turun, air tidak disambut tanah, tapi langsung jadi banjir yang membawa lumpur. Ketika hujan tidak turun, kita teriak kekeringan.

Padahal, Allah sudah mengingatkan di awal ayat itu: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik..." (QS. Al-A'raf: 56).

Kerusakan itu kita lakukan sendiri. Lalu kita meminta langit untuk membereskannya.

Para wanita Madinah dulu bisa langsung mengadu kepada Rasulullah, pemimpin mereka, dan langsung dijawab. Hari ini, ke mana rakyat harus mengadu ketika sumurnya kering, sawahnya retak, dan harga air tangki melambung? Apakah masih ada pembahasan proyek air bersih yang belum tuntas?

Rasulullah mengajarkan doa yang sangat spesifik: minta hujan yang "naafi'an ghaira dhaarrin", yang bermanfaat, tidak membawa bencana. Artinya, sejak 14 abad lalu, Islam sudah mengajarkan mitigasi bencana. Hujan yang diminta bukan hujan yang membawa banjir bandang karena hutan sudah gundul. Tapi hujan yang menyuburkan.

Kita hari ini sering berdoa minta hujan, tapi lupa berbuat kebaikan yang menjadi syarat turunnya rahmat. Ayat itu jelas: "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."

Kebaikan itu bukan hanya salat dan zikir. Kebaikan itu adalah tidak merusak hutan. Kebaikan itu adalah menjaga mata air. Kebaikan itu adalah membangun embung, bukan hanya membangun gedung.

Akhirnya, surat Al-A'raf ayat 57 menantang kita untuk peka. Alam bukan benda mati tanpa makna. Di balik embusan angin dan rintik hujan, ada teknologi Ilahi yang menghidupkan bumi yang mati, sekaligus ada pesan yang seharusnya menghidupkan hati manusia yang mulai mengering.

Jika Madinah yang kering bisa basah kembali karena doa yang tulus dari pemimpin yang peduli, maka kita pun bisa.

Asalkan mau mendengar tangis warganya seperti Rasulullah mendengar tangis para wanita itu. Dan asal kita berhenti berbuat kerusakan di bumi setelah ia diciptakan dengan baik.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Wallahu a'alam bishshawab. (**)

LIPSUS