Oleh: Clara Vanesa Dea Putri /Mahasiswa PAI UIN Jurai Siwo Lampung
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, termasuk dalam hal pendidikan. Namun, perbedaan tersebut terkadang membuat seseorang merasa tertinggal ketika melihat teman-teman sebayanya sudah mencapai sesuatu yang belum ia capai. Perasaan ini sering muncul bukan karena seseorang benar-benar gagal, melainkan karena ia membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Dalam psikologi, kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain dikenal sebagai social comparison. Menurut teori perbandingan sosial yang dikemukakan Leon Festinger, seseorang cenderung menilai kemampuan dan pencapaian dirinya dengan melihat orang lain. Hal ini sebenarnya wajar dilakukan, tetapi dapat menjadi masalah ketika perbandingan tersebut membuat seseorang merasa dirinya lebih rendah.
Ia mulai melihat pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan dirinya sendiri.
Perasaan tertinggal ini bisa dialami oleh siapa saja, terutama ketika berada pada masa peralihan menuju dewasa. Pada masa ini, seseorang sering dihadapkan pada berbagai tuntutan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, hingga harapan keluarga.
Ketika melihat teman sebaya sudah melangkah lebih jauh, muncul pertanyaan dalam diri, seperti “Kenapa aku belum sampai di sana?” atau “Apa aku sudah terlalu jauh tertinggal?”
Saya pernah merasakan hal tersebut ketika mengambil jeda satu tahun sebelum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat teman-teman sudah lebih dahulu kuliah dan mulai bercerita tentang kehidupan kampus, saya terkadang merasa ingin berada di posisi yang sama.
Cerita mereka membuat saya ikut membayangkan pengalaman yang belum saya rasakan. Meskipun tidak menyesali pilihan sendiri, ada kalanya saya bertanya-tanya apakah saya sudah berjalan terlalu lambat dibandingkan mereka.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa perasaan tertinggal tidak selalu muncul karena keadaan yang buruk. Terkadang, perasaan itu muncul karena kita terlalu sering melihat pencapaian orang lain tanpa memahami proses yang mereka lalui.
Kita mengetahui bahwa teman sudah kuliah, bekerja, atau mencapai sesuatu, tetapi belum tentu mengetahui kesulitan yang mereka hadapi. Akibatnya, kehidupan orang lain terlihat lebih baik, sedangkan kehidupan sendiri terasa kurang berarti.
Jika terus dibiarkan, kebiasaan membandingkan diri ini dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Salah satunya adalah menurunnya kepercayaan diri.
Seseorang bisa mulai meragukan kemampuan dan keputusannya sendiri hanya karena merasa tidak secepat orang lain. Padahal, keterlambatan dalam mencapai suatu hal tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang tidak mampu. Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.
Selain itu, perasaan tertinggal juga dapat menimbulkan kecemasan terhadap masa depan.
Seseorang mungkin merasa harus segera mengejar pencapaian teman-temannya agar tidak semakin jauh tertinggal. Akibatnya, ia mengambil keputusan bukan berdasarkan kebutuhan dan kemampuannya, melainkan karena takut dianggap gagal. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat membuat seseorang sulit menikmati proses yang sedang dijalani karena pikirannya terus berfokus pada apa yang belum dimiliki.
Tekanan ini juga dapat diperkuat oleh lingkungan sosial dan media sosial. Ketika melihat teman mengunggah pencapaian akademik, pekerjaan baru, atau pengalaman menyenangkan, seseorang bisa merasa bahwa hidupnya tidak mengalami kemajuan. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Tidak semua kesulitan, kegagalan, dan kekhawatiran ditampilkan kepada orang lain. Membandingkan keseluruhan kehidupan diri sendiri dengan bagian terbaik kehidupan orang lain tentu dapat menimbulkan penilaian yang tidak adil terhadap diri sendiri.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa merasa tertinggal bukan berarti benar-benar gagal. Perasaan tersebut merupakan sesuatu yang dapat muncul ketika kita menghadapi tekanan sosial dan memiliki harapan tertentu terhadap diri sendiri. Namun, kita perlu belajar membedakan antara keinginan untuk berkembang dan keinginan untuk mengejar orang lain. Berkembang berarti berusaha menjadi lebih baik sesuai kemampuan dan tujuan pribadi, sedangkan mengejar orang lain tanpa mempertimbangkan keadaan diri sendiri justru dapat menimbulkan tekanan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengubah cara kita menilai kemajuan diri.
Daripada terus bertanya mengapa pencapaian kita tidak sama dengan pencapaian teman, kita dapat mulai melihat perubahan yang sudah terjadi dalam diri sendiri. Kemajuan tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Berani mencoba, mampu bertahan menghadapi kesulitan, menyelesaikan tanggung jawab, dan semakin memahami tujuan hidup juga merupakan bentuk perkembangan yang patut dihargai.
Lingkungan juga memiliki peran penting dalam membantu seseorang menghadapi perasaan tertinggal. Dukungan dari keluarga dan teman dapat membuat seseorang merasa diterima tanpa harus membuktikan keberhasilannya melalui pencapaian tertentu.
Sebaliknya, pertanyaan yang terus membandingkan seseorang dengan orang lain dapat memperkuat rasa tidak percaya diri. Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati dalam berbicara, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain yang sedang menjalani proses hidup berbeda.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Kita tidak harus mencapai semua hal pada usia yang sama atau mengikuti urutan kehidupan yang sama dengan teman sebaya. Ada kalanya orang lain melangkah lebih dahulu, sementara kita masih berusaha menemukan arah. Hal itu tidak membuat kita menjadi pribadi yang kurang berharga.
Mungkin yang perlu kita ubah bukanlah kecepatan langkah, melainkan cara kita memandang perjalanan sendiri. Kita boleh menjadikan pencapaian orang lain sebagai motivasi, tetapi tidak seharusnya menjadikannya alasan untuk merendahkan diri. Sebab, hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat sampai, melainkan proses untuk terus bertumbuh dan menemukan makna dari setiap langkah yang kita jalani. (**)

