-->
Cari Berita

Breaking News

Ketika Semua Hal Bisa Viral: Apakah Remaja Masih Pahami Batas?

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Minggu, 11 Oktober 2026



Oleh: Vina Annisatul Mufidah -Mahasiswi Tadris Matematika UIN Jurai Siwo Lampung 


Coba buka beranda media sosial hari ini. Hampir pasti ada video yang sedang ramai dibicarakan, dan semua hal memang bisa viral dalam hitungan jam. Sayangnya, tidak semua yang viral itu lucu. 


Contohnya, video berdurasi 18 detik dari sebuah SMP di Tuban, Jawa Timur, yang memperlihatkan seorang siswa kelas 7 dipukul dan ditendang oleh kakak kelasnya. Kejadiannya pada 7 Maret 2026, tetapi baru ramai setelah videonya viral pada 17 April 2026 (Okezone, 2026).


Pertanyaannya: ketika segala sesuatu bisa direkam dan ditertawakan, apakah remaja masih tahu kapan bercanda berubah menjadi menyakiti? Kata "bercanda" sering dipakai sebagai tameng ketika perilaku yang melukai terbongkar. Secara psikologis, perundungan dicirikan oleh niat melukai, dilakukan berulang, dan adanya ketimpangan kekuatan (Olweus, 1993). 


Candaan yang sehat tidak begitu: semua pihak tertawa, posisinya setara, dan kalau ada yang bilang "cukup", yang lain berhenti. Jadi ukurannya bukan niat pelaku, melainkan dampak bagi orang yang menerima.


Kebingungan remaja soal batas ini sebenarnya bisa dipahami. 


Menurut Erikson, remaja sedang mencari identitas dan sangat butuh diterima teman sebaya, sementara bagian otak yang mengendalikan impuls belum matang sepenuhnya (Santrock, 2019). Di media sosial, kebutuhan untuk diterima itu terukur lewat like, komentar, dan jumlah penonton. 


Perilaku yang tampak "menguntungkan", misalnya merendahkan orang lain demi tawa dan pengikut, pun mudah ditiru oleh remaja lain.

Kamera memperparah keadaan. Di Tana Toraja pada Mei 2026, polisi mengamankan enam terduga pelaku perundungan terhadap siswi berusia 14 tahun, dan ponsel yang merekam kejadian menjadi barang bukti. Para terduga pelaku mengaku kesal karena korban diduga sering mengambil pakaian mereka, tetapi polisi menegaskan alasan itu tidak membenarkan kekerasan.


Kamera mengubah orang yang disakiti menjadi tontonan, sementara para penonton cenderung diam atau ikut tertawa karena merasa itu bukan urusan mereka.

Namun viral punya dua sisi. 


Di Semarang, perselisihan kecil di media sosial pada akhir Februari 2026 diduga berujung pengeroyokan seorang siswa kelas 1 SMP di toilet sekolah. Korban trauma berat dan menolak bersekolah, dan penyelidikan baru bergulir masif setelah video pengakuan ibunya viral. Viral bisa menjadi pengeras suara bagi korban, tetapi juga panggung bagi tindakan yang merendahkan. Dampaknya nyata bagi pendidikan, sebab siswa yang tidak merasa aman di sekolah akan sulit belajar dengan optimal.


Menurut saya, sebagian besar remaja sebenarnya tahu bahwa memukul dan mempermalukan itu salah. Masalahnya, empati kalah oleh tekanan kelompok dan keinginan untuk dilihat; di momen itu yang terpikir bukan "ini melukai dia", melainkan "ini seru kalau direkam". Aturan sebenarnya sudah ada, misalnya Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 yang mendorong sekolah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Kemendikbudristek, 2023). 


Tantangannya ada di pembiasaan sehari-hari, bukan hanya hukuman setelah kejadian.


Lalu apa yang bisa dilakukan? Remaja perlu punya "rem" sederhana sebelum bercanda atau merekam: apakah orangnya ikut tertawa, apakah rela berada di posisinya, dan apakah masih lucu kalau ditonton orang tuanya? Guru perlu menegur candaan yang merendahkan sejak dini dan membuat siswa berani berkata "aku nggak nyaman". 


Orang tua perlu hadir di dunia digital anak, bukan sekadar membatasi gawai. Dan kita sebagai saksi harus berhenti menjadi penonton: jangan menyebarkan video kekerasan, jangan menambah komentar yang merendahkan, dan laporkan kepada pihak yang berwenang.


Media sosial tidak akan berhenti membuat segalanya viral, dan memang bukan itu yang perlu dihentikan. Yang perlu dijaga adalah jeda sejenak sebelum menekan tombol rekam atau kirim. Biasakan bertanya: apakah ini membuat orang lain tertawa bersama kita, atau hanya menertawakan dia? Candaan yang baik adalah candaan yang bisa dinikmati semua pihak yang terlibat; selebihnya, sebaiknya tidak perlu dibagikan. (**)

LIPSUS