![]() |
| Gunung Anak Krakatau |
INILAMPUNGCOM - Kondisi Gunung Anak Krakatau (GAK) sebagai gunung berapi dipastikan terus menebarkan debu vulkanik. Dan pada Minggu malam ini, 18 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB sebarannya memasuki wilayah Provinsi Lampung.
Menurut analisa Citra RGB Himawari-9, sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu malam ini mengarah ke Barat Daya, mencakup sebagian Samudra Hindia Selatan Lampung.
Dengan dorongan angin yang cukup kencang, hampir bisa dipastikan abu vulkanik akan merambah ke kawasan pesisir Provinsi Lampung.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada Minggu, 18 Oktober 2026, Gunung Anak Krakatau tiga kali mengalami erupsi. Yaitu pukul 11.44 WIB, 12.01 WIB, dan 12.59 WIB. Dengan kolom abu vulkanik tertinggi mencapai 500 meter di atas puncak.
Hingga saat ini Gunung Anak Krakatau masih dalam status siaga, dan warga masyarakat dilarang mendekati kawasan gunung berapi di Selat Sunda tersebut dalam jarak 5 Km.
Sebelumnya, pada Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak teridentifikasi arahnya. Meski demikian, dapat dipastikan bahwa sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tetap ada. Dan jika mengacu data BMKG pada Jum'at malam, 9 Oktober 2026 lalu, arah sebaran debu vulkanik ke Samudera Hindia.
Saat itu, kondisi Gunung Anak Krakatau tengah meningkat aktivitasnya. Namun, karena sebaran abu vulkaniknya ke kawasan Samudera Hindia, masyarakat Provinsi Lampung khususnya yang tinggal di wilayah pesisir diminta untuk tidak panik.
"Karena saat ini arah angin ke Samudera Hindia, sebaran abu vulkanik mengarah kesana," tutur Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Lampung, Tezza B. Negoro, mewakili Kepala BPBD Aswarodi, Sabtu petang, 10 Oktober 2026.
Menurut Tezza, berdasarkan pengalaman selama ini, dengan posisi arah angin menuju Samudera Hindia maka kecil kemungkinan dampak erupsi GAK mengarah ke wilayah Provinsi Lampung.
![]() |
| Citra RGB Himawari-9 |
"Sampai petang ini, arah angin masih ke Samudera Hindia. Partikel erupsi GAK mengarah kesana. InshaAllah tidak berdampak kepada kita di Lampung seperti beberapa waktu lalu," ucap Tezza B Negoro melalui pesan WhatsApp.
Diketahui, sejak Jum'at malam, 9 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB status GAK telah dinaikkan ke level III atau siaga.
Menurut Kepala BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, sampai Sabtu siang telah terjadi sembilan kali erupsi dengan ampitudo maksimal 55 milimeter dan durasi 32 detik. Namun, untuk tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Erupsinya kembali GAK ini memang tetap perlu diwaspadai. Karena mengandung beberapa ancaman, mulai dari lontaran batu pijar, hujan abu lebat, hingga aliran lava.
Aswarodi menambahkan, erupsi sekunder di GAK tersebut akibat kontak material lava bersuhu tinggi dengan air laut maupun air hujan.
Ia meminta warga pesisir untuk waspada dan tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari GAK. (zal/inilampung)

.jpeg)
