-->
Cari Berita

Breaking News

Meneguhkan Kembali Nilai Sakral Sumpah Pemuda Melalui Psikologi Positif

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Kamis, 29 Oktober 2026

Kongres Pemuda 1928


Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA /Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

 

Setiap 28 Oktober, rakyat Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda sebagai momen untuk mengingat janji persatuan yang muncul pada tahun 1928. Namun, di tengah perubahan sosial dan budaya digital, timbul pertanyaan reflektif: apakah nasionalisme di kalangan generasi muda masih menjadi kesadaran yang mendorong tindakan, atau hanya sekadar simbol yang diulang dalam upacara, slogan, dan unggahan media sosial? 


Nasionalisme yang meredup tidak selamanya menunjukkan berkurangnya rasa kasih terhadap negara. Isunya bisa terkait dengan perbedaan antara rasa bangga sebagai warga negara dan kesiapan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial. Seseorang bisa saja merasa bangga memakai simbol kebangsaan, tetapi belum tentu siap menghargai perbedaan, menolak perundungan, menjaga lingkungan, atau berkontribusi untuk masyarakat. Oleh karena itu, nilai sakral Sumpah Pemuda harus dihidupkan melalui pengalaman yang menciptakan kesadaran, karakter, dan perilaku.


Dalam konteks tersebut, psikologi positif memberikan pendekatan yang sesuai. Martin EP Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi (2000) menyatakan bahwa psikologi positif mempelajari kekuatan karakter, pengalaman baik, serta lembaga yang mendukung kemajuan kehidupan manusia. Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan pada masalah dan kelemahan, tetapi juga pada potensi yang bisa dikembangkan untuk menghasilkan kehidupan yang bermakna. 


Apabila diintegrasikan dalam pendidikan kebangsaan, psikologi positif berperan dalam mengubah pendekatan nasionalisme dari suatu kewajiban yang dianggap beban menjadi komitmen yang muncul dari kesadaran, harapan, rasa memiliki, serta keinginan untuk memberikan kontribusi. Dengan demikian, peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun masa depan bangsa melalui kekuatan karakter generasi muda.

 

Rekonstruksi Semangat Kebangsaan


Psikologi positif menawarkan dasar untuk membangun nasionalisme yang sehat melalui kekuatan karakter, arti hidup, optimisme yang realistis, dan tindakan prososial. Dalam konteks Seligman dan Csikszentmihalyi (2000), fokus pada kekuatan individu serta kualitas interaksi sosial dapat menjadi landasan untuk merancang pendidikan yang tidak hanya menekankan pada transfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan potensi manusia. 


Pertama, kaum muda harus didukung untuk menemukan arti dalam identitas nasional. Nasionalisme semakin kokoh ketika rasa cinta terhadap Indonesia terhubung dengan tujuan yang jelas, seperti meningkatkan mutu pendidikan, mengembangkan pengetahuan, melestarikan budaya, dan membantu masyarakat yang kurang mampu. Kebanggaan nasional kini tidak hanya tergantung pada kejayaan sejarah, tetapi juga pada kemauan untuk memperbaiki situasi saat ini.

 

Kedua, penguatan karakter harus menjadi elemen dalam pendidikan nasional. Kejujuran, tanggung jawab, ketekunan, keberanian moral, serta kepedulian sosial adalah sifat-sifat yang mewujudkan nilai persatuan dalam sikap. 


Generasi muda yang berani menentang diskriminasi, tidak menyebarluaskan berita bohong, dan mau berkolaborasi dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda telah mewujudkan semangat Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari-hari.

 

Keterkaitan metode tersebut tampak dalam penelitian yang dilakukan oleh Syafrial Nur dan rekan-rekannya, yang diterbitkan pada 25 Agustus 2026 di jurnal Discover Education. Studi tentang pengembangan materi pembelajaran digital yang berlandaskan budaya lokal untuk meningkatkan nasionalisme Generasi Z di wilayah perbatasan Kalimantan Barat menekankan signifikansi pembelajaran yang mengaitkan identitas nasional, pengalaman setempat, dan keterlibatan kewargaan. 


Penelitian itu menunjukkan bahwa nasionalisme bisa diwujudkan melalui pendidikan yang relevan dengan kehidupan siswa, bukan hanya dengan menghafal lambang negara.

 

Ketiga, nasionalisme harus dikembangkan secara inklusif. Psikologi positif tidak ada alasan untuk mengabaikan masalah atau memaksakan pandangan optimis. Sebaliknya, pendekatan ini mendorong masyarakat untuk memahami tantangan sambil mengasah kekuatan yang diperlukan untuk menghadapinya. Cinta terhadap negara tidak mengharuskan seseorang mengabaikan ketidakadilan; sebaliknya, rasa cinta itu dapat menjadi motivasi untuk melakukan perbaikan dengan penuh tanggung jawab.

 

Mengubah Nilai Sakral Sumpah Pemuda 


Bagaimana penerapan psikologi positif dalam kehidupan kaum muda? Pertama, sekolah dan perguruan tinggi dapat mengadakan kegiatan refleksi kebangsaan yang mengaitkan sejarah Sumpah Pemuda dengan isu-isu terkini. Peserta didik dapat dilibatkan dalam mengidentifikasi permasalahan di sekitarnya, merumuskan solusi, dan melaksanakan proyek sosial secara bersama-sama.


Kedua, organisasi kepemudaan harus meningkatkan pengalaman keberhasilan secara kolektif. Kegiatan antarbudaya, sukarelawan sosial, inovasi lingkungan, dan pengembangan teknologi dapat mengembangkan rasa percaya diri serta rasa kepemilikan terhadap negara. 


Saat kontribusi individu diakui dan dampaknya dirasakan oleh masyarakat, nasionalisme mendapatkan makna yang lebih nyata.


Ketiga, ruang digital harus digunakan untuk meningkatkan pengaruh positif. Pemuda dapat membagikan pengetahuan, memperkenalkan budaya lokal, mengadvokasi toleransi, dan membangun solidaritas kemanusiaan. 


Akan tetapi, kegiatan ini harus disertai dengan literasi informasi dan tanggung jawab etis agar media sosial tidak menjadi arena persaingan simbolik tanpa kontribusi yang signifikan.


Dasar spiritualnya dapat ditemukan dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu bangsa sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka terlebih dahulu. Ayat ini bisa menjadi peringatan mengenai betapa pentingnya usaha, tanggung jawab, dan perubahan yang dimulai dari diri kita sendiri.


Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang yang terbaik di antara manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain” (HR. Ath-Thabrani, dalam Al-Mu'jam al-Awsat. 


Pesan ini sejalan dengan pemikiran bahwa cinta terhadap bangsa harus diaktualisasikan melalui tindakan yang memberikan manfaat. Rasa nasionalisme tidak hanya dinilai dari ucapan, tetapi juga dari kemampuan untuk saling mendukung, menghargai, dan memperkuat satu sama lain.

 

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa nasionalisme tidak seharusnya hanya diukur dari kekuatan simbol dan kemeriahannya perayaan. Ukuran yang lebih signifikan adalah sejauh mana nilai persatuan membentuk kepribadian, memengaruhi pilihan, dan mendorong partisipasi sosial. Peringatan Hari Sumpah Pemuda harus dijadikan momentum untuk memperbaharui komitmen itu. Dengan psikologi positif, generasi muda bisa dibantu untuk menemukan arti kebangsaan, mengasah kekuatan karakter, dan membangun optimisme yang diiringi tindakan konkret. Nilai suci Sumpah Pemuda juga dapat tercermin dalam tindakan sehari-hari: berani berbuat benar, menerima perbedaan, giat berkarya, dan peduli terhadap kepentingan bersama. Semangat nasionalisme tetap hidup selama generasi muda terus menemukan alasan untuk mencintai, memperbaiki, dan membangun tanah airnya. Sumpah Pemuda tidak hanya sekadar warisan yang diperingati setiap bulan Oktober, tetapi juga tanggung jawab yang perlu direalisasikan sepanjang massa. (**)

LIPSUS