![]() |
| Pancasila |
Oleh: Junaidi Jamsari
Ada jarak yang sangat jauh antara dilahirkan dan disaktikan.
Seorang anak dilahirkan hanya butuh 9 bulan. Tapi untuk menjadi anak yang sakti, yang kuat, yang tahan banting, ia butuh ditempa belasan tahun oleh ujian kehidupan.
Begitu juga Pancasila.
Ia dilahirkan pada 1 Juni, sebagai gagasan besar, sebagai visi luhur di atas kertas. Ia adalah kata-kata.
Ia baru dinyatakan sakti pada 1 Oktober, setelah mampu bertahan melewati badai pengkhianatan dan ujian sejarah yang hebat. Ia adalah tindakan.
1 Juni adalah tentang dialektika kata dan retorika. 1 Oktober adalah tentang ketegasan sikap dan tindakan nyata untuk mempertahankan nilai. Sejarah mengajarkan kita, sebuah ideologi baru teruji nilainya bukan saat situasi aman, melainkan saat ia mampu melewati krisis.
Pertanyaannya hari ini: Pancasila kita baru sampai tahap dilahirkan, atau sudah kita saktikan?
Kita semua hafal Pancasila di luar kepala. Bahkan kita sering melihat pejabat melempar kuis: "Siapa hafal Pancasila dapat sepeda!" Tepuk tangan membahana. Tapi apakah dengan ritual hafalan dan bagi-bagi sepeda itu Pancasila otomatis menjadi sakti? Tentu tidak.
Kesaktian Pancasila tidak boleh mandek sebagai catatan sejarah 1965 dan tidak boleh dikerdilkan jadi komoditas kuis seremonial.
Ironisnya, realitas hari ini berbanding terbalik dengan esensi ujian itu. Kita lantang teriak "Persatuan Indonesia", tapi jempol kita begitu mudah mengetik makian di WhatsApp dan Facebook hanya karena beda pilihan politik. Jika beda pandangan saja sudah merenggangkan silaturahmi, di mana sakti sila persatuan itu?
Krisis yang sama terjadi pada sila kemanusiaan. Kita hafal "adil dan beradab", tapi sehari-hari kita masih membuat sekat tebal karena status sosial, pekerjaan, pendidikan, bahkan keyakinan. Kita mudah merendahkan orang yang beda kelas. Hafalan kita ternyata belum mampu mengikis perilaku yang tidak manusiawi.
Lalu salahnya di mana?
Salahnya bukan pada Pancasila-nya. Lima silanya sudah sempurna. Salahnya ada pada kita yang menjadikan Pancasila sebagai simbol untuk dipamerkan, bukan sistem nilai untuk dikerjakan.
Kita lebih bangga anak hafal Pancasila demi sepeda, ketimbang bangga anak mau berbagi sepeda itu kepada teman yang tidak mampu. Kita telah mengubah Pancasila dari etika kerja menjadi etika panggung. Di titik itulah kesaktiannya luntur.
Bagi umat Islam, pengamalan Pancasila adalah kelanjutan ibadah. Sila pertama adalah tauhid, Qul huwallahu ahad (QS. Al-Ikhlas:1).
Sila kedua adalah misi Rasulullah menjadi rahmatan lil 'alamin (QS. Al-Anbiya:107) untuk memanusiakan manusia.
Sila ketiga adalah perintah menjaga ukhuwah, wa'tashimu bihablillahi jami'an wa la tafarraqu (QS. Ali Imran:103).
Sila keempat adalah perintah syura, wa syawirhum fil amr, di mana jabatan adalah amanah bukan tameng kekuasaan.
Dan sila kelima adalah muara syariat, innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan. Mengamalkan Pancasila secara jujur tidak akan mengurangi keislaman kita.
Maka, kesaktian Pancasila tidak diuji di panggung politik makro, tapi di hal kecil. Saat kita tidak memotong antrian, kita menegakkan sila kedua dan kelima. Saat kita menahan diri tidak menyebar hoaks yang memecah belah, kita menghidupkan sila ketiga. Saat pejabat jujur dan amanah, ia mengamalkan sila keempat.
Menghafal itu penting agar tidak kehilangan jati diri. Tapi membiarkan Pancasila hanya berhenti sebagai hafalan di atas panggung kuis adalah kemunduran. Tugas kita hari ini, Kamis 1 Oktober 2026 ini, adalah membawa Pancasila bergerak dari sekadar "dilahirkan" dalam kata-kata, menuju "disaktikan" dalam perbuatan.
Jika tidak, Pancasila hanya akan menjadi dokumen usang yang dikeramatkan, tapi kehilangan kesaktiannya di dunia nyata. (**)

