Oleh: Nova Nisa Lestari -Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung
Masa remaja adalah tahap dimana seseorang mulai mengalami banyak perubahan, baik secara sosial, emosional maupun akademis. Pada masa ini, sebagian remaja masih menjalani pendidikan di sekolah dan menghadapi tuntutan akademik.
Di sekolah, siswa tidak hanya perlu memahami pelajaran mereka tetapi juga diharapkan dapat menyelesaikan tugas, mengikuti ujian, mendapatkan nilai yang tinggi dan terkadang juga harus mengikuti kegiatan tambahan. Semua kegiatan ini merupakan proses dari belajar. Namun, jika tuntutan yang diterima siswa sangat banyak dan dilakukan secara terus-menerus hal tersebut dapat menjadi beban bagi mereka.
Salmela-Aro et al. (2021) menjelaskan bahwa burnout di lingkungan sekolah dapat ditandai dengan rasa lelah karena kegiatan akademik, munculnya sikap negatif terhadap sekolah, serta perasaan tidak mampu dalam menjalankan tugas akademik. Kondisi ini penting untuk diperhatikan karena siswa yang mulai kehilangan semangat belajar belum tentu hanya karena malas. Bisa saja mereka sudah merasa terlalu lelah dengan berbagai tuntutan yang harus diselesaikan.
Jika kondisi tersebut dibiarkan, siswa dapat semakin sulit untuk menikmati proses belajar.
Sebagai contoh bisa kita lihat dari rutinitas harian siswa. Misalnya, seorang siswa menghabiskan seluruh harinya untuk mengikuti pembelajaran di sekolah, kemudian pulang sekolah masih harus mengerjakan beberapa tugas, mengikuti les, dan belajar kembali untuk mempersiapkan ujian. Meskipun melakukan hal tersebut dapat meningkatkan prestasi akademik mereka, namun ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan istirahat yang cukup akan membuat mereka kelelahan.
Gao (2023) menemukan adanya hubungan antara tekanan akademik dengan meningkatnya academic burnout pada remaja. Artinya, semakin besar tekanan yang dirasakan siswa dalam kegiatan akademik, semakin besar pula kemungkinan siswa mengalami kelelahan akademik.
Selain tugas dan kegiatan yang terlalu banyak, tekanan juga dapat muncul dari keinginan siswa untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Ada siswa yang merasa bahwa nilai menjadi ukuran utama keberhasilan mereka. Ketika mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan harapan, mereka merasa kecewa dan menganggap dirinya tidak cukup baik.
Keadaan tersebut dapat menjadi lebih berat ketika siswa membandingkan dirinya dengan teman yang mendapatkan nilai maupun prestasi yang lebih tinggi. Padahal, setiap siswa memiliki kemampuan dan proses belajar yang berbeda.
Tekanan seperti itu tidak hanya datang dari sekolah itu sendiri. Keluarga menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang remaja.
Sangatlah wajar jika orangtua menginginkan anaknya untuk berkembang. Namun, ketika keinginan tersebut berubah menjadi sebuah tekanan, maka remaja akan terbebani dan stress semakin bertambah.
Jiang et al. (2021) mengatakan bahwa tekanan akademik pada remaja berkaitan dengan academic burnout dan kondisi psikologis yang kurang baik. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga sebaiknya tidak hanya diberikan ketika siswa mendapatkan nilai yang tinggi, tetapi juga ketika siswa sedang mengalami kesulitan.
Pada akhirnya, tekanan akademik adalah sesuatu yang harus dihadapi setiap remaja dan harus diperhitungkan, karena pentingnya pendidikan dalam mempersiapkan masa depan. Namun, tingkat tekanan akademik yang terus-menerus dapat menyebabkan stres yang berlebihan bagi siswa, yang mana tidak hanya mempengaruhi kemampuan belajar mereka tetapi juga menyebabkan masalah psikologis.
Beberapa gejala seperti mudah lelah, kehilangan minat belajar, tidak mampu berkonsentrasi, hingga menghindari aktivitas akademik perlu diperhatikan karena mungkin itu menunjukkan bahwa siswa sedang mengalami kelelahan akademik (burnout).
Menurut saya, prestasi tidak boleh menjadi satu-satunya aspek yang dipertimbangkan dalam proses pendidikan. Penting bagi para siswa untuk diarahkan agar mampu berhasil, tetapi pada saat yang sama mereka juga perlu keluar dari ranah akademik. Disini peran sekolah, guru, dan orangtua sama pentingnya. Guru dapat memberikan tuntutan akademik secara lebih seimbang, orangtua dapat membantu tetapi tidak memberikan tekanan yang berlebihan dan para siswa dapat mencoba memahami batas kemampuan mereka sendiri.
Dengan demikian, lingkungan belajar yang positif tidak seharusnya menyebabkan berkurangnya minat siswa untuk mencapai sesuatu. Sebaliknya lingkungan yang sehat dapat memfasilitasi proses belajar siswa dan membantu mereka mempertahankan motivasi mereka juga. Belajar bukan hanya dimaksudkan untuk menghasilkan siswa yang memiliki hasil yang bagus tetapi juga untuk mengembangkan orang-orang yang mampu mengatasi stres, mengetahui diri mereka sendiri dan ingin belajar.
Dengan cara seperti itu kesuksesan akademik dan kesejahteraan psikologis remaja dapat hidup berdampingan satu sama lain. (**)

.jpeg)