-->
Cari Berita

Breaking News

PTPN I Fasilitasi Link and Match Perkebunan untuk Talenta Muda

Dibaca : 0
 
Kamis, 08 Oktober 2026

 Direktur PTPN I Abdul Rivai Ras dan Rektor USB YPKP Bandung, Prof. Diana Sari. Foto: Ist.

INILAMPUNGCOM--Pembelajaran di Kampus dengan dunia kerja yang kerap tidak berbanding lurus mendapat perhatian dari PT Perkebunan Nusantara I (Persero).  Dengan aneka potensi yang ada, BUMN Perkebunan ini membuka ruang kepada generasi muda lulusan perguruan tinggi untuk menerapkan ilmu dari bangku kuliah ke praktek lapangan dengan program magang. Hal ini penting untuk menyiapkan lulusan baru perguruan tinggi mengadaptasi ilmunya ke dunia nyata.


Pernyataan itu disampaikan Direktur PTPN I Abdul Rivai Ras di Jakarta, Rabu (7/10/26). Ia mengatakan, sebagai entitas milik negara, pihaknya memiliki kewajiban moral untuk menjadi solusi masalah bangsa. Salah satunya, dalam penyiapan tenaga kerja terampil, penyerapan angkatan kerja, dan penyediaan lapangan kerja.


"Sebenarnya banyak lapangan kerja, tetapi kadang sulit mencari tenaga kerja terampil yang siap dengan kondisi dunia kerja nyata. Itulah makanya kita butuh link and match antara kampus dan dunia kerja. Dia akan menjadi jembatan untuk mempertemukan kebutuhan industri. Oleh karena itu, kami membuka kesempatan kepada talenta muda untuk magang dan atau memanfaatkan resources yang kami miliki untuk mem-bridging dua kutub itu," kata Rivai.


Abdul Rivai menggelar potensi yang ada di PTPN I dan bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa tingkat akhir dan atau lulusan baru. Antara lain, lahan yang luas, bidang riset yang beragam, teknologi agro dan machinery, dan lainnya. Konsepnya, berupa program magang sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa. Langkah ini diarahkan untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata industri, sekaligus menyiapkan talenta yang mampu menjawab tantangan bisnis berkelanjutan.


Konsep ini juga disampaikan Abdul Rivai Ras saat memberikan kuliah umum di Universitas Sangga Buana (USB) YPKP bandung pekan lalu. Ia mengatakan, transformasi industri menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami persoalan di lapangan. Karena itu, hubungan antara perguruan tinggi dan industri perlu dibangun melalui kerja sama yang menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi yang dapat diterapkan.


“Bagaimana membuka ruang kerja sama, khususnya dalam mendorong terbangunnya kampus hijau, yang kemudian pada saatnya mahasiswa yang sudah selesai kuliah bisa mengembangkan aspek industri hijau. Karena itu berangkatnya dari kampus,” kata Abdul Rivai.


Menurut Abdul Rivai, PTPN I memiliki sumber daya dan lingkungan operasional yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi mahasiswa. Lahan perusahaan, misalnya, dapat menjadi lokasi penelitian, pengembangan teknologi maupun pengujian inovasi yang relevan dengan kebutuhan perkebunan. “Kami membuka ruang. Lahan-lahan kami yang tidur itu bisa dibuat produktif, bisa ditanami, bisa bekerja sama,” kata dia.


Selain lahan, PTPN I membuka peluang kolaborasi dalam pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan perkebunan. Salah satunya melalui penerapan Internet of Things (IoT) dan berbagai inovasi digital yang dapat dikembangkan bersama perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut juga dapat diperluas melalui program magang. Mahasiswa diberi kesempatan untuk mengenal proses bisnis secara langsung, mengidentifikasi persoalan di lapangan, sekaligus menguji pengetahuan akademik melalui pengalaman kerja yang nyata.


Abdul Rivai menilai kebutuhan talenta industri hijau tidak terbatas pada bidang teknik. Transformasi bisnis membutuhkan dukungan berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknologi informasi, akuntansi, keuangan, manajemen, komunikasi hingga ilmu sosial. “Keilmuan bukan hanya dari sisi teknis. Keahlian sosial juga kita butuhkan karena di perkebunan kita mengakomodasi masyarakat yang ada di lingkungan itu,” katanya.


Menurut dia, karakteristik bisnis perkebunan membuat aspek lingkungan dan sosial tidak dapat dipisahkan dari pencapaian kinerja perusahaan. Karena itu, talenta masa depan perlu memiliki kemampuan teknis sekaligus pemahaman mengenai keberlanjutan, efisiensi sumber daya, perubahan iklim, serta hubungan perusahaan dengan masyarakat.


Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Rektor USB YPKP Bandung, Prof. Diana Sari. Ia mengatakan pengembangan Green Campus yang dilakukan perguruan tinggi akan semakin kuat apabila terhubung dengan dunia industri. USB YPKP Bandung telah menjalankan sejumlah program lingkungan, antara lain penanaman lebih dari 1.000 pohon, Green Action, penghematan energi dan air, pengembangan teknologi panel surya oleh dosen, serta keterlibatan dalam program pengelolaan sampah di Kota Bandung. “Kami seperti gayung bersambut. Kami sudah memiliki program dan ternyata PTPN I juga concern terhadap climate change dan isu lingkungan,” ujar Diana.


Menurut Diana, konsep Green Campus tidak semata-mata berbicara mengenai pembangunan fasilitas ramah lingkungan. Yang lebih penting adalah membentuk pola pikir dan kebiasaan seluruh warga kampus dalam menggunakan energi dan sumber daya secara efisien. 


Bagi mahasiswa, keterhubungan dengan industri sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan penelitian yang memiliki manfaat langsung. Raffael Mikyal Ashtariq, mahasiswa Teknik Elektro USB YPKP Bandung menilai kesempatan riset dan magang di industri dapat memperkaya pengalaman mahasiswa.


“Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, saya melihat ilmu yang kami pelajari bisa diterapkan langsung di industri. Kalau ada kesempatan riset atau magang di PTPN I, tentu menarik karena kami bisa belajar dari persoalan nyata di lapangan, tidak hanya dari teori di kampus,” ujarnya. (mfn/rls)

LIPSUS