![]() |
Java Coffee Estate di lereng Gunung Raung, Bondowoso, Jawa Timur. Foto: Ist. |
INILAMPUNGCOM — Mengetik kata "Kopi Ijen" di mesin pencarian Google, peselancar akan menemukan aneka frasa tentang reputasi kopi yang diproduksi PTPN I Regional 5 melalui Java Coffee Estate di lereng Gunung Raung, Bondowoso, Jawa Timur.
Sohornya kualitas kopi dari jalur menuju Kawah Ijen itu memang terdongkrak oleh sejarahnya yang panjang dan haru biru. Yakni, betapa heroiknya para pebisnis asal Negeri Kincir Angin di zaman penjajahan itu menemukan jenis kopi, varietas, jenis tanah, dukungan suhu, hingga kontur yang cocok untuk menghasilkan specialty coffee.
Dibangun pada zaman Belanda menduduki Indonesia, temuan kopi terbaik ini menjadi rujukan para penikmat kopi. Saking khasnya, jenis kopi yang kemudian menyebar dan dibudidayakan oleh masyarakat sekitarnya telah mengangkat nama Bondowoso sebagai "Republik Kopi". Tak berlebihan, sebab nama kopi Ijen, Java Coffee Estate PTPN I, dan Republik Kopi adalah pengungkit nama kabupaten itu ke panggung dunia.
Modal nama besar ini tak disia-siakan PTPN I. Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras mengatakan, reputasi unggul adalah setengah dari suatu pencapaian. Kopi Ijen, kata dia, harus dihidupkan kembali reputasinya untuk menghidupkan bisnis PTPN I dan denyut nadi ekonomi masyarakat sekitar.
"Nama besar adalah modal penting. Hari ini hampir semua orang menyebut Aqua untuk air minum dalam kemasan, padahal mereknya Le Mineral. Demikian juga dengan pasta gigi, semua orang menyebut odol, padahal itu adalah merek. Juga silet yang diadobsi dari merek pisau cukur merek Gillette. Nah, kita harus cari cara untuk membranding produk identik dengan keunggulan. Kopi Ijen sedapat mungkin harus kita orbitkan, setidaknya dalam jajaran specialty coffee kelas premium," kata Abdul Rivai Ras saat mengunjungi Java Coffee Estate, pekan lalu.
Rivai mengatakan, PTPN I sebagai produsen jangan berhenti pada pola pikir konvensional yang selama ini berjalan. Dengan keunggulan komparatif dan kompetitif, Java Coffee Estate harus berkreasi menerobos berbagai konvensi untuk meningkatkan nilai tambah. Sebab, masa depan perkebunan kopi tidak cukup bertumpu pada produktivitas tanaman. Pengamanan aset, pemanfaatan teknologi, dan hilirisasi menjadi kunci untuk mengubah potensi kebun menjadi nilai ekonomi yang lebih besar.
Java Coffee Estate dikelalo entitas profesional dengan model KSO dengan PTPN i. Abdul Rivai Ras didampingi beberapa staf dan Region Head PTPN I Regional 5 Subagiyo dan Manajer Java Coffee Estate Hastudy Yunarko meninjau Afdeling Plalangan. Dalam dialog dengan para karyawan, Rivai menegaskan bahwa aset perkebunan harus dijaga dengan baik, dikelola secara produktif, dan dikembangkan agar mampu memberikan kontribusi optimal bagi perusahaan.
“Aset harus kita amankan, produktivitas harus kita tingkatkan, dan setiap potensi kebun harus kita dorong menjadi nilai tambah. Kita tidak boleh berhenti pada produksi bahan baku, tetapi harus bergerak menuju hilirisasi dan membangun daya saing yang lebih kuat,” tegas Abdul Rivai Ras.
Menurut dia, transformasi perkebunan juga harus ditopang oleh pemanfaatan teknologi dan digitalisasi. Penggunaan Internet of Things (IoT), pemantauan berbasis satelit, serta sistem yang terintegrasi perlu dikembangkan untuk memantau kondisi tanaman, mendeteksi potensi gangguan sejak dini, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan kebun diharapkan semakin presisi dan efisien. Teknologi bukan sekadar pelengkap operasional, melainkan instrumen untuk memperkuat pengawasan aset, meningkatkan efektivitas kerja, dan menjaga keberlanjutan produksi.
“Kita harus mulai mengelola kebun dengan pendekatan yang lebih modern dan berbasis data. Teknologi harus dimanfaatkan untuk membantu kita mengetahui kondisi kebun secara lebih cepat dan tepat, sehingga setiap keputusan benar-benar mendukung produktivitas dan efisiensi,” kata dia.
Dari kebun, perhatian kemudian diarahkan pada peluang pengembangan kopi Ijen di kawasan Ijen Geopark. Di tengah dinamika pasar dan meningkatnya minat terhadap produk kopi, PTPN I melihat peluang untuk memperkuat hilirisasi, menarik investasi berkelanjutan, dan memperluas jangkauan pemasaran hingga pasar ekspor.
Salah satu peluang yang perlu dikembangkan adalah produk ready to drink (RTD), yakni minuman kopi siap konsumsi yang telah diolah dan dikemas secara praktis. Produk ini membuka ruang bagi kopi Ijen untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, sekaligus memperkuat nilai tambah melalui pengembangan produk jadi.
Namun, pengembangan produk tidak cukup hanya mengandalkan kualitas. Strategi promosi, penguatan merek, kesiapan pasar, dan kesinambungan pasokan juga perlu dibangun agar produk mampu bersaing dan tumbuh secara berkelanjutan.
“Kita harus menangkap momentum meningkatnya kebutuhan kopi dunia. Ijen memiliki potensi yang perlu dikembangkan secara serius dan terintegrasi, mulai dari kebun, kualitas produk, hilirisasi, hingga pemasaran. Kita ingin pengembangannya menjadi proyek besar yang mampu menarik investasi berkelanjutan dan membuka peluang ekspor,” kata Abdul Rivai Ras.
Baginya, pengembangan kopi Ijen harus ditempatkan dalam perspektif bisnis jangka panjang. Peningkatan produksi perlu berjalan seiring dengan penciptaan nilai tambah, penguatan akses pasar, serta pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya PTPN I membangun bisnis perkebunan yang adaptif terhadap perubahan, mengoptimalkan aset yang dimiliki, dan memperkuat daya psaing di tengah persaingan industri agribisnis.
Melalui penguatan pengelolaan kebun, transformasi digital, dan hilirisasi, kopi Ijen diharapkan berkembang melampaui komoditas perkebunan konvensional. Potensinya perlu diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperluas pasar, menarik investasi, dan memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pertumbuhan perusahaan. (mfn/rls)

