INILAMPUNGCOM - Kondisi Gunung Anak Krakatau (GAK) sebagai gunung berapi dipastikan terus menebarkan debu vulkanik. Namun, pada Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, sebarannya tidak teridentifikasi.
Menurut BMKG, kondisi sebaran debu vulkanik GAK yang tidak teridentifikasi itu berdasarkan analisis Citra RGB Himawari-9 pada pukul 07.00 WIB Sabtu pagi.
Sebaran debu vulkanik tidak teridentifikasi arahnya itu, dijelaskan BMKG, bisa jadi karena wilayah Gunung Anak Krakatau tengah tertutup awan.
Meski demikian, dapat dipastikan bahwa sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tetap ada. Dan jika mengacu data BMKG pada Jum'at malam, 9 Oktober 2026 lalu, arah sebaran debu vulkanik ke Samudera Hindia.
Saat itu, kondisi Gunung Anak Krakatau tengah meningkat aktivitasnya. Namun, karena sebaran abu vulkaniknya ke kawasan Samudera Hindia, masyarakat Provinsi Lampung khususnya yang tinggal di wilayah pesisir diminta untuk tidak panik.
"Karena saat ini arah angin ke Samudera Hindia, sebaran abu vulkanik mengarah kesana," tutur Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Lampung, Tezza B. Negoro, mewakili Kepala BPBD Aswarodi, Sabtu petang, 10 Oktober 2026.
Menurut Tezza, berdasarkan pengalaman selama ini, dengan posisi arah angin menuju Samudera Hindia maka kecil kemungkinan dampak erupsi GAK mengarah ke wilayah Provinsi Lampung.
"Sampai petang ini, arah angin masih ke Samudera Hindia. Partikel erupsi GAK mengarah kesana. InshaAllah tidak berdampak kepada kita di Lampung seperti beberapa waktu lalu," ucap Tezza B Negoro melalui pesan WhatsApp.
Diketahui, sejak Jum'at malam, 9 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB status GAK telah dinaikkan ke level III atau siaga.
Menurut Kepala BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, sampai Sabtu siang telah terjadi sembilan kali erupsi dengan ampitudo maksimal 55 milimeter dan durasi 32 detik. Namun, untuk tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Erupsinya kembali GAK ini memang tetap perlu diwaspadai. Karena mengandung beberapa ancaman, mulai dari lontaran batu pijar, hujan abu lebat, hingga aliran lava.
Aswarodi menambahkan, erupsi sekunder di GAK tersebut akibat kontak material lava bersuhu tinggi dengan air laut maupun air hujan.
Ia meminta warga pesisir untuk waspada dan tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari GAK. (zal/inilampung)

