-->
Cari Berita

Breaking News

Tanggul Way Kambas Dibangun Rp850 Miliar, Ketahanan Konstruksi Disorot

Dibaca : 0
 
Senin, 19 Oktober 2026

 

Jembatan di tanggul pembatas Way Kamas dengan karung plasting berisi tanah. 

INILAMPUNGCOM — Tanggul pembatas Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan lahan warga di Lampung Timur dibangun untuk mencegah konflik gajah liar dan manusia. Namun, konstruksi tanggul sepanjang 138 kilometer itu menyisakan pertanyaan tentang ketahanan bangunan.


Tanggul dengan lebar dan tinggi sekitar empat meter itu mulai dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga dan rekreasi. Setiap akhir pekan, warga datang untuk bersepeda, jogging, atau sekadar berfoto.


Tanggul tersebut dibangun untuk membatasi kawasan hutan dengan lahan masyarakat sekaligus mengurangi konflik gajah liar dan warga yang telah berlangsung bertahun-tahun. Dengan nilai pembangunan sekitar Rp850 miliar, tanggul diharapkan mampu memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat di sekitar TNWK.


Namun, berdasarkan pengamatan lapangan pada awal Oktober 2026, terdapat sejumlah bagian konstruksi yang menjadi perhatian. Mulai dari penggunaan lumpur kering sebagai material timbunan, pemasangan panel beton yang ditahan patok kayu, hingga konstruksi jembatan.


Tanggul pembatas Way Kambas dalam proses pembangunan.

Lumpur Kering

Di sejumlah lokasi, material utama badan tanggul berupa lumpur rawa kering atau *endut* dalam bahasa Jawa. Material tersebut digunakan untuk menimbun badan tanggul hingga ketinggian sekitar 3,5 meter sebelum dilapisi tanah liat.


Penggunaan material tersebut menjadi perhatian, terutama terkait ketahanan badan tanggul ketika hujan turun dan debit air meningkat. Kondisi tanah yang berubah akibat genangan air berpotensi memengaruhi kestabilan timbunan.


Panel beton 4x1 meter di sisi yang menghadap kawasan TNWK. 

Panel Beton

Pada sisi tanggul yang menghadap kawasan hutan, panel beton berukuran sekitar 4 x 1 meter dipasang miring sekitar 60 derajat. Panel dengan bobot diperkirakan 1,4 ton tersebut ditahan dua patok kayu gelam yang ditanam pada badan tanggul.


Bagian bawah panel bertumpu pada tanah sekitar 50 sentimeter dari dasar sungai. Berdasarkan pengamatan lapangan, tanah di bagian tersebut terlihat berupa lumpur yang mengering akibat kemarau. Kestabilan panel bisa terpengaruh ketika debit air meningkat karena tanah dasar yang menjadi pijakan panel akau menjadi lebih lunak. 


Karung Plastik Berisi Tanah

Jalur tanggul dilengkapi sejumlah jembatan dengan konstruksi berbeda. Di wilayah Spontan, Brajaharjosari, Kecamatan Brajaselebah, Lampung Timur, terdapat jembatan yang menggunakan tiga drum besar dengan diameter sekitar empat meter. Sisi kiri dan kanan jembatan diperkuat susunan karung plastik berisi tanah. 


Selain itu, terdapat jembatan berbentuk melengkung. Berdasarkan bentuk dan dimensinya, kedua jenis jembatan tersebut memiliki ruang lintas terbatas dan tampaknya tidak diperuntukkan bagi kendaraan roda empat.


Pagar Kawat Pembatas

Tanggul juga dilengkapi pagar pembatas berupa empat jalur kawat seling dengan ukuran kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Kawat dipasang memanjang dengan jarak vertikal sekitar 50 sentimeter dan ditopang tiang besi setinggi sekitar dua meter.


Pagar tersebut berfungsi sebagai penghalang tambahan agar gajah liar di TNWK tidak melintasi tanggul menuju lahan warga. 


Bagi masyarakat sekitar, tanggul diharapkan mampu mengurangi gangguan gajah liar yang selama bertahun-tahun memicu konflik dengan manusia. Gangguan tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan tanaman pertanian, tetapi juga menimbulkan korban jiwa.


Dengan nilai pembangunan sekitar Rp850 miliar, ketahanan badan tanggul, kestabilan panel beton, serta kekuatan jembatan dan saluran air, dapat bertahan dalam jangka panjang. (mfn/inilampung.com)

LIPSUS