-->
Cari Berita

Breaking News

Tidak Memilih Takdir, Tetapi Pilih Respon

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Jumat, 09 Oktober 2026

 

 Dua persimpangan jalan

Oleh: Junaidi Jamsari /Penulis Tinggal di Lampung Barat 


Pernahkah kita mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat ini: "Ah, memang dasar lagi sial."

Ketika dagangan rugi, kita bilang sial. Ketika jabatan lepas, kita bilang sial. Ketika lamaran ditolak, kita pun bilang sial. Seolah-olah, hidup kita ini dikendalikan oleh sebuah kekuatan buta yang bernama kesialan. Padahal dalam Islam, tidak ada istilah sial yang tanpa arah. 


Rasulullah SAW secara tegas telah menghapus takhayul nasib buruk ini. Beliau bersabda:

"Laa thiyarata..." yang artinya, Tidak ada kesialan karena sesuatu. (HR. Bukhari & Muslim).

Lalu, bagaimana Islam mengajarkan kita memandang roda kehidupan? Prinsipnya hanya satu: Kita memang tidak bisa memilih takdir sesuka kita, tetapi kita selalu bisa memilih jalan ikhtiar dan cara merespons takdir itu.


Dua Ranah Takdir


Para ulama membagi takdir menjadi dua wilayah besar untuk dipahami manusia:


1. Takdir Mubram (Mutlak):

Ini adalah wilayah yang sepenuhnya milik Allah. Kapan kita lahir, dari rahim ibu siapa, dan kapan kita wafat. Tugas kita di ranah ini hanya satu: Ridha.


2. Takdir Muallaq (Dikaitkan): 

Ini adalah wilayah yang digantungkan pada usaha manusia. Mau jadi orang berilmu atau bodoh, mau jadi pemimpin amanah atau khianat, mau berkecukupan karena kerja keras atau kesulitan karena malas. Semua itu bergantung pada respons dan ikhtiar kita.


Allah SWT menegaskan aturan main ini dalam Al-Qur'an: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Jadi jelas, bukan kesialan yang membuat kita gagal, melainkan berhentinya ikhtiar kita.


Analogi Petani


Mari kita belajar dari seorang petani. Petani paham betul bahwa ia tidak bisa mengatur kapan hujan harus turun atau kapan kemarau harus datang. Itu wilayah Takdir Mubram.

Namun, ia punya kendali penuh atas responsnya: ia bisa memilih untuk mencangkul, menanam, dan merawat tanamannya. Jika semua ikhtiar itu sudah dilakukan secara maksimal, lalu Allah mendatangkan banjir bandang yang menghanyutkan sawahnya, di sinilah mentalitas seorang mukmin diuji.


Orang yang salah merespons akan berkata, "Saya sial," lalu berhenti dan putus asa. Namun, seorang mukmin sejati akan berkata, "Qadarullah, ini yang terbaik. Apa ikhtiar kita selanjutnya?" lalu ia bangkit lagi. Bedanya tipis di lisan, tetapi dampaknya bagai langit dan bumi bagi masa depan.


Mengubah Kata "Sial" Menjadi "Belum"


Oleh karena itu, jangan pernah memberi label kegagalan kita dengan kata SIAL. Ganti kata itu dengan kata BELUM.


Belum berhasil, bukan berarti sial.

Belum sampai, bukan berarti gagal.


Tawakal bukanlah alasan untuk bermalas-malasan atau pasrah tanpa arah. Tawakal adalah puncak dari ikhtiar yang maksimal. Rasulullah SAW mengingatkan: "Ikat dulu untamu, baru engkau bertawakal." (HR. Tirmidzi). Ikat dulu, usahakan dulu, jaga dulu amanah itu, baru serahkan hasilnya kepada Allah.


Dinamika Jabatan


Hari-hari ini, kita melihat jabatan dan posisi duniawi berpindah tangan dengan cepat. Ada yang dilantik, ada yang dilepas.

Bagi yang dilepas jabatannya, jangan katakan Anda sedang sial. Mungkin, Allah sedang menyayangi Anda dengan meringankan beban hisab Anda di akhirat nanti. Bagi yang mendapat jabatan baru, jangan terburu-buru merasa beruntung. Bisa jadi, Allah sedang menambah berat ujian dan tanggung jawab Anda.


Sebab, jabatan bukanlah piala keberuntungan atau kutukan kesialan. Jabatan adalah amanah. Dan setiap lembar amanah akan ditanya: Dari mana ia didapat, dan ke mana ia digunakan?


Mari kita merunduk dan berdoa kepada-Nya:

Ya Allah, kami adalah hamba-Mu yang lemah. Kami sadar kami tidak bisa memilih takdir yang Engkau gariskan. Namun, bimbinglah hati dan langkah kami agar selalu mampu memilih jalan ikhtiar yang benar, serta menganugerahi kami respons yang penuh keridhaan atas semua ketetapan-Mu. Amin ya Rabbal 'Alamin. (**)

LIPSUS