Oleh: Vina Annisatul Mufidah -Mahasiswi Tadris Matematika, UIN Jurai Siwo Lampung
Belakangan ini, obrolan siswa kelas akhir SMA/sederajat hampir selalu berputar di hal yang sama: sudah belajar sampai bab berapa, ikut try out di mana, dan target skornya berapa.
Wajar saja, karena Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober sampai 8 November 2026, didahului gladi bersih pada 5 sampai 18 Oktober. Tinggal hitungan hari.
Buku latihan soal menumpuk, jam tidur berkurang, dan pertanyaan "sudah cukup siap belum, ya?" terus berputar di kepala.
Anehnya, tekanan ini muncul untuk tes yang sebenarnya tidak wajib.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sendiri menyebut salah satu pertimbangannya adalah agar siswa tidak sampai stres. Jadi pertanyaannya: kalau pemerintah saja sudah berusaha meringankan, mengapa suasana di lapangan tetap terasa tegang? Menurut saya, jawabannya ada pada cara kita memaknai tes ini, bukan pada aturannya.
Dalam psikologi pendidikan, kondisi ini dikenal sebagai stres akademik, yaitu ketika siswa merasa tuntutan seperti tugas, ujian, dan harapan guru atau orang tua melebihi kemampuannya. Perhatikan kata "merasa". Dua siswa dengan jadwal dan materi yang sama bisa mengalami tekanan yang jauh berbeda. Yang menentukan bukan hanya beratnya soal, tetapi juga seberapa yakin kita pada kemampuan sendiri dan seberapa kuat dukungan di sekitar kita.
Jangan anggap ini sekadar perasaan berlebihan.
Azzahra dan Alrefi (2025) meneliti 103 siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Indralaya Utara dan menemukan bahwa 45% berada pada tingkat stres akademik sedang, dan 27% pada tingkat tinggi. Lebih jauh lagi, makin tinggi stres akademik, makin rendah kesejahteraan psikologis siswa. Artinya, tekanan belajar yang dibiarkan menumpuk bukan hanya membuat lelah, tetapi juga menggerus rasa sejahtera.
Memang, penelitian ini hanya di satu sekolah, tetapi pesannya cukup jelas.
Yang lebih menarik, tekanan itu tidak selalu terlihat dari luar. Muntaha dkk. (2026) meneliti seorang siswi kelas IX di SMP Negeri 1 Srono yang sedang menyiapkan diri menghadapi TKA. Ia menunjukkan tanda-tanda burnout akademik: kelelahan emosional, menjauh secara psikologis dari kegiatan belajar, dan menurunnya keyakinan pada kemampuannya. Padahal, menurut gurunya, ia cukup mampu.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa try out dan pengingat yang terus-menerus justru bisa memperkuat rasa tidak mampu. Memang ini studi kasus tunggal dan bukan diagnosis, tetapi pelajarannya jelas: siswa yang rajin hadir dan mengumpulkan tugas belum tentu baik-baik saja.
Di sinilah saya melihat kesalahpahaman yang sering terjadi. Kita menganggap belajar lebih keras dan lebih lama pasti sama dengan persiapan yang lebih baik. Padahal, siswa yang tidur larut setiap malam sambil membandingkan skor dengan teman justru sedang menambah beban di kepalanya sendiri. Apalagi di era media sosial, selalu ada orang yang tampak "lebih siap". Tanpa sadar, kita menilai diri dari posisi orang lain, bukan dari perkembangan kita sendiri.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Sekolah perlu menghadirkan layanan bimbingan dan konseling sebelum asesmen berlangsung, bukan setelah siswa bermasalah, termasuk deteksi dini dan pelatihan mengelola stres. Orang tua bisa mengubah "harus dapat nilai tinggi" menjadi "ibu/bapak percaya kamu sudah berusaha". Dan untuk siswa, mulailah dengan hal kecil: pecah target belajar, jaga jam tidur, dan jangan ragu bercerita kepada guru BK atau teman ketika mulai kewalahan.
Pada akhirnya, TKA hanyalah potret kemampuan pada satu waktu, bukan vonis atas masa depan. Tugas pendidikan bukan hanya mengantar siswa menjawab soal dengan benar, tetapi juga memastikan mereka tetap sehat secara mental sepanjang prosesnya.
Jadi, bagi yang sebentar lagi menghadapi TKA: belajarlah sebaik mungkin, tidurlah secukupnya, dan ingat bahwa kamu jauh lebih berharga daripada angka di sertifikat. (**)

