ENAM PULUH DUA tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jejak panjang yang diukir dengan keringat, air mata, dan doa untuk republik.
Memperingati Hari Ulang Tahun ke-62 pada 20 Oktober 2026, DPD Partai Golkar Provinsi Lampung memilih jalan sunyi yang khidmat: ziarah. Bukan karpet merah, melainkan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang. Di sanalah, di antara nisan yang diam, para kader menundukkan kepala — belajar kembali arti pengabdian.
Mengusung tema “Golkar Bersama Rakyat; Karya Nyata, Rakyat Sejahtera,” ziarah itu dilanjutkan dengan doa bersama dan tasyakuran di Kantor DPD Golkar Lampung. Doa yang dipanjatkan bukan untuk kekuasaan, tapi untuk kebermanfaatan.
Akar Sejarah: Dari Sekber Menjadi Gerakan Bangsa
Perjalanan Golkar tak lahir dari ruang hampa. Akar filosofinya adalah Golongan Fungsional, gagasan Soekarno, Soepomo, dan Ki Hajar Dewantara sejak 1940-an: politik yang mewakili karya, bukan sekadar ideologi.
Pada 20 Oktober 1964 — di penghujung Orde Lama ketika rongrongan PKI menguat di dalam dan luar Front Nasional — Letkol Suhardiman dari SOKSI bersama puluhan perwira AD menghimpun organisasi pemuda, wanita, buruh, tani, nelayan, dan sarjana.
Lahirlah Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Ketua pertamanya Brigjen Djuhartono, lalu digantikan Mayjen Suprapto Sukowati pada Mukernas I Desember 1965. Semula hanya 61 organisasi, kemudian membuncah menjadi 291 organisasi yang sadar perjuangannya adalah menegakkan Pancasila dan UUD 1945.
Untuk merapikan barisan, dibentuklah 7 Kelompok Induk Organisasi (KINO): KOSGORO, SOKSI, MKGR, Organisasi Profesi, Ormas Hankam, GAKARI, dan Gerakan Pembangunan. Inilah Trikarya yang menjadi mesin penggerak.
Menghadapi Pemilu pertama Orde Baru, pada 4 Februari 1970, tujuh KINO bersepakat ikut Pemilu dengan satu nama dan lambang: Golongan Karya. Sejak Pemilu 1971, logo beringin itu dipertahankan hingga kini. Pada Munas I di Surabaya, 4-10 September 1973, nama itu dikukuhkan dari organisasi federatif menjadi kekuatan politik. Di era Orde Baru, Golkar menjadi pilar bersama ABRI dan Birokrasi. Pasca Reformasi 1998, ia bertransformasi menjadi Partai Golkar dan tetap bertahan sebagai partai tertua di Indonesia.
Karya yang Harus Terasa
Enam puluh dua tahun kemudian, di Lampung, makna itu kembali diuji.
“Keberhasilan politik harus diukur dari manfaat yang dirasakan rakyat,” menjadi pesan yang menggaung dalam tasyakuran itu.
Bukan lagi soal menang kalah, melainkan tentang ekonomi kerakyatan yang tumbuh, SDM yang tercerdaskan, dan potensi daerah yang dirawat. Dari ziarah yang hening, Golkar Lampung meneguhkan janji: merawat persatuan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan karya nyata — karena karya tanpa rakyat hanyalah gema tanpa suara. (*)

