PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (4)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (4)

bdy
Selasa, 24 Desember 2019


Oleh Isbedy Stiawan ZS

aku hanyalah luka
ditakdirkan menyimpan 
hari ke hari, tahun berbilang
tiada tanda akan kering 

*

SUR masih di sebelah kiriku. Meja kami menghadap ke jalan, di belakang adalah dinding. Sebuah lukisan, kutahu dari gayanya adalah karya perupa lokal. Meski begitu, lukisannya tampak kualitasnya. Artinya, bukan soal geografis melainkan intelektual sang pelukis. Aku percaya itu.

Sejak tadi bersama Sur kami membincangkan lukisan persis di atas kepala kami. Lalu diskusi meluas ke larya-karya Soedjojono, Afandi, Jeihan, dan lain sebagainya. Tidak lupa si "Monalisa" yang fenomenal itu.

Ketika menyebut "Monalisa" pembicaraan kembali pada takdir dan keinginan. Antara memilih hidup sendiri dan mencari istri. Sur belum berubah. Ia tetap memandang sebelah mata pada perempuan.

"Bagiku, jangan berharap hati dari perempuan. Lihatlah kaum Hawa itu dari indahnya bodi!" tanda Suryadi sekali lagi.

"Tak adil kau, Sur! Tuhan menciptakan manusia dari bodi ke hati. Jangan ambil sepotong-sepotong!" sergahku.

 "Coba kau amati handphonemu. Apa ya kau hanya membeli cassing tanpa dengan isinya? Tidak bukan? Begitu pun pada manusia, yaitu perempuan. Terima ia keseluruhan atau tak sama sekali. Bagaimana jika para wanita yang mendekatimu punya pikiran, berapa tebal isi dompemu, bukan berapa besar perhatianmu?"

Sur diam. Tetapi ia tetap tersenyum. Tentu agak sinis kurasakan.

"Aku sudah tak ambil peduli soal itu bro! Setidak sampai malam ini. Aku punya uang, dan aku tak memiliki cinta! tandasmu.

Kini giliranku yang tersenyum. Pahit.

"Sepertinya kau bernapsu menguliti aku, bro!" tiba-tiba saja ucapan itu menluncur. Lalu lanjutmu, "Buatku  perceraian bukanlah suatu kegagalan, tapi sebuah proses atau fase hidup agar aku bisa bijaksana. Untuk apa mendapatkan kebahagiaan kalau itu dari sesuatu yang palsu. Kepalsuan. Lebih baik aku bermain dalam kepalsuan, mamun bahagia walau sesaat. Dalam permainan semacam ini, aku tak harus mengumbar kata romantis, cinta, dan sejenis itu. Kalau aku mau langsung ajak, setelah itu jangan dikenang. Tak ada kenangan. Tak perlu meninggalkan jejak."

Aku meringis.

"Kau begitu benci pada perempuan, hanya karena seorang Ayu. Kau lupa ibu kita adalah wanita, adik atau kakak, maupun mungkin anak kita..."

"Aku membenci bukan kepada ibuku. Bukan ibu-ibu di dunia yang setia, berkorban demi anak-anaknya agar jadi manusia beradab. Tetapi aku tak bisa untuk tidak membenci perempuan yang tak setia. Yang menghancurkan hati orang yang menyayanginya!" balasmu cepat. Seperti ingin memotong perkataanku agar tak berlanjut.

Aku mendengar. Menikmati kekesalannya. Sebagai penonton pada pelakon. Sur bagiku adalah aktor di atas panggung, dan aku layaknya pengunjung di kursi penonton.

Lama kami terdiam. Sur kubiarkan kini asyik dengan telepon genggam. Terkadang wajahnya tersenyum, matanya tak berkedip saat tertuju ke layar telepon pintar itu. Pada berikutnya, kerut di keningnya naik. 

Sesekali kulirik layar berwarna biru di tangan kawanku itu. Terlihat wajah perempuan mirip Ayu, mantan istrinya. 

"Siapa tu? Ayu?" tanyaku sekena tapi ingin tahu.

Ia menggeleng. 

"Mirip ya?" dia balik bertanya.

Aku mengangguk.

"Tak ada yang hilang. Kukira Ayu. Atau kembaran Ayu...."

"Bukan. Dia Dora namanya. Kami berkenalan saat di Palembang 5 bulan lalu. Ia sekarang lagi di sini. Bermalam di hotel...." ujar Sur.

"Jadi setelah ini kau mau menemuinya? Berkencan..." aku memancing.

"Hust! Bapak yang baik tak boleh tahu dengan urusan orang lain yang masih sendiri. Mau apa kek dia, jungkir balik dengan seribu bidadari tah...."

Lalu jeda. Malam tak surut. Sur bangkit izin ke toilet sambil berdialog di handphonenya. Mungkin Dora. Barangkali perempuan lain. Sesaat kemudian sudah kembali. Ia menyalamiku dan kurasa ada amplop di tanganku yang diberikan Sur.

"Aku pamit. Itu sekadar, terima sebagai persahabatan. Sabtu malam besok, kita bertemu lagi ya. Aku yang rekomendasi kafenya. Pustaka Kopi di BK Permai. Biar dapat suasana lain," katanya.

Sebelum ke kasir ia berujar, "Aku siap mendanai penerbitan kalau kau bisa menulis novel dari berbagai kafe di kota ini, dan pengunjung-pengunjungnya. Aku suka ada romannya, ada kesedihan, dan sejenis itu. Tak perlu masuk ke suasana tragis dan kriminal, sekiranya bisa kau hindari. Aku janji akan membiayai cetak dan uang lelahmu. Oke?"

Lalu ia pergi dengan terano-nya.  Di jalan kubuka amplop dari Sur. Lima juta rupiah dengan pecahan seratus ribu!

(Bersambung)