PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (44)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (44)

bdy
Kamis, 13 Februari 2020



LEWAT tengah malam aku merampungkan proposal untuk peluncuran novelku di sejumlah kafe di sini dan luar kota. 

Soal Dinda sudah beres. Ia masih menguasai jiwanya. Tidak frontal. Mungkin karena kubawa ke halaman belakang dan memandangi pesawahan dan perkebunan.

Sebenarnya apakah itu terapi atau hanya kebetulan. Cuma aku pernah dengar orang tua, yang mengatakan, apabila seseorang sedang dibuncah emosi atau kemarahan hendaklah duduk atau sebaliknya saat duduk sebaiknya segera berdiri dan mengambil wuduk dan langsung mengerjakan salat sunnah. 

Dinda yang kutahu lahir dan remaja di pedesaan. Setelah lulus SMP ia bersekolah di kota provinsi yang berjarak 5 jam dari desanya. Tentu ia harus mengekos di kora. Setelah itu ia kuliah di provinsi lain, sampai lulus. Ia bekerja di J, kota yang dikenal kerap dihajar banjir bertubi-tubi setiap musim hujan.

Terus terang, aku tak tahu banyak soal psikologi cara menurunkan emosi seseorang. Hanya kebetulan. Kuajak Dinda melihat suasana halaman belakang. 

Cara ini, sebetulnya hanya untuk menghindari seandainya tiba-tiba amarahnya tak bisa dibendung. Buat ulah memalukan di kafe tersebut. Aku juga tak begitu paham tentang watak seseorang, apatah lagi Dinda yang walau sudah lama kukenal hanya baru kutahu yang sampai pada mataku. Sifatnya? Belum semua. Belum apa-apa.

Nah! Kalau kata orang bijak yang pernah kudengar -- barangkali orang itu dapat dari orang lain atau dari bacaan, entah pula sebab kelaziman saja -- jika seseorang diingatkan pada suatu kenangan yang mungkin kala ia kecil atau kanak-kanak yang amat membekas dan itu amatlah indah serta menggembirakan -- akan mengembalikannya pada moment puitik dan kegembiraan-keriangan. Maka ia akan lupa pada saat itu juga tentang yang ia rasakan. Seperti amarah yang hampir tak terkendali. Menyadarkan dirinya pada moment silam yang membahagiakan.

Semata kebetulan. Tempat yang kubawa Dinda tepat. Tapi kalau aku salah membawa atau menunjukkan tempat yang salah, niscaya akan terjadi yang lain. Cerita akan berbeda. Narasi dapat saja tragik! 

Tuhan masih baik. Dituntunnya, melalui diriku, meredakan kegoncangan jiwa Dinda. Menurunkan tensi amarahnya. Ah, entah kenapa aku begitu ingin masuk lebih dalam ke batinnya. Untuk melihat terbuat dari apa sesungguhnya, ia bisa bolak-balik dari penyayang lalu berganti amarah. Dari sangat perhatian bisa secepatnya jadi kemarahan. 

Ah, hati! Sedalam-dalamnya lautan masih bisa terukur. Tetapi, sekecil-kecilnya hati, adakah yang bisa menyelami?

Entah kenapa aku tetap suka. Tak ada niat meninggalkannya, melupakannya, mencelakakannya. Ia tetap terbaik bagiku. Seorang ahli cinta pernah berujar, cintailah seseorang dengan cinta yang siap mencintai kekurangan orang yang kau cintai. Bukan kau mencintai kelebihan-kelebihannya semata.

Kekurangan itu kau isi dengan kelebihan cinta. Seperti kata Bob Marley, jangan kita mengaku menyukai hujan tapi saat hujan kita pakai payung dan jas hujan. Benar kau Marley! 

Aku coba untuk mencintai Dinda yang bukan kelebihannya. Soal kelebihan sepatutnya disyukuri dan diapresiasi agar tetap terjaga. 

Ya! Aku sehetulnya tak setuju soal anugerah (award) yang diberikan kepada kepala daerah, karena keberhasilan ini dan itu -- kebersihan misalnya -- sebab sudah seharusnya tugas dia begitu. Atau ada anugerah yang diberikan pada seseorang karena dianggap telah menjaga atau melestarikan tradisi (budaya). Padahal ia memang tugas di sana. Coba andai pengayuh becak tiba-tiba punya kesadaran yang sama, apa bisa terpantau? 

Peristiwa-peristiwa masa lalu, sedih ataupun menggembirakan, yang membekas sekali, suatu saat akan mengulang -- dalam hal ingatan -- atau sekadar terkenang. Inilah yang, mungkin, dinamai memulangkang moment puitik maupun tragik. Dan aku, sementara, kuanggap berhasil.

Menjelang fajar, suara dari dapur sebelah rumah sudah terdengar.

Manusia kembali dihidupkan dari kematian sementara. Ia mengawali perjuangan hidup untuk hari ini. Kembali menyiapkan segala rencana dan kerja rutin untuk melihat dan mendapatkan hasil di sorenya. 

Dan aku justru hendak menutup kerjaku hingga dinihari ini. 

Betapa panjang perjalanan, bepata sedikit yang bisa didapat. Begitu tak terukur kerja duniawi, tapi alangkah kecil ukurannya bagi manusia untuk bersyukur dan mensyukuri.

Aku masih di kursi kerjaku. Menatap lembar kalender berbagai destinasi wisata dunia.

Soal destinasi tak begitu penting. Aku terpaku pada angka 6 di situ. Angka itu mengingat angka kemujuran, karena sama dianggap oleh beberapa orang. Enam mengingatkan kemenangan dari kongres sebuah partai. Dua kali ketua partai dari dua kongres menangnya oleh selisih angka enam. Hanya kali ini, selain kemenangan pada engka 6 juga dibarengi saling lempar kursi dan barang yang berada di ruang kongres!

Sungguh memalukan!

Negeri yang katanya terus ingin berbenah, demi menuju negeri yang beradab. Tetapi, adab yang dilihatkan adalah pelemparan kursi, hujam batu, menolak yang berbeda paham, ataupun pandangan. Adab yang membela dan membenarkan setiap kata atasan. Duh!

*
Sehabis subuh Dinda menelepon. Ia minta maaf karena peristiwa semalam. Aku jawab, sudah kimaafkan. Bahkan, sebelum Dinda berbuat salah maafku tak bertepi sudah kuberikan.

"Aih, bohong! Subuh-subuh sudah dusta. Dosa lo kamu Busye...." katanya sambil tertawa. Renyah. 

Pagi pun bagai merekah.

Aku suka kalau mendengar suaranya di dalam telepon. Renyah. Lembut. Dari kalimat yang merajuk, kata-kata "bodok" sampai saat dia berkata: "Busye sayang....". Ketika Dinda meledekku dengan "Busye jelek!" aku senang menerimanya. Soalnya ia ucapkan itu bukan dari hati terdalamnya.

"Sebel. Kamu tuh kadang nyebelin," katanya lagi. "Nda mau minta maaf. Janji gak lagi kayak gitu. Asal kamu juga jaga perasaan Nda. Jangan lukai hati Dinda ya.. "

"Siaap."

"Janji?"

"Janji! Demi matahari dan bulan yang berputar pada porosnya masing-masing, kalau aku tak tepat janji jadikan kedua planit itu jatuh dan menimpaku...." 

"Duh berat amat. Gak mauuu...." teriak Dinda. "Bisa kiamat tahu ketimpa planit," lanjut dia sambil tertawa. 

Aku pun tertawa. Derai. Bahagia.

Di luar kupu-kupu dan capung berterbangan. Keluar dari sarangnya. Matahari tampak. Cahayanya jatuh di jendela kamarku. 

"Malam nanti ke Kedai Hidayatullah yuk. Kafe baru, ada Elka Coffee juga..." kata Dinda. "Biar ada suasana baru..."

"Siap!" 

Dinda pamit menutup telepon genggamnya. Ia mau kerja. 

"Jangan lupa sarapan dulu sebelum ngopi dan ngerokok ya Busy," pesannya.

Ah!


(Bersambung)