-->
Cari Berita

Breaking News

Soal Prosesi Injak Kepala Kerbau, Kata Jokowi: Jangan Semua Hal Ditarik ke Ranah Politik

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Selasa, 07 Juli 2026

 

Joko Widodo (rmoljateng)

INILAMPUNGCOM -- Mantan Presiden RI Joko Widodo akhirnya angkat bicara mengenai polemik prosesi adat "menginjak kepala kerbau" yang dia lakukan saat pemberian gelar kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" di Lampung.


Jokowi menilai penafsiran bahwa prosesi itu bermakna politis adalah berlebihan. Ia meminta publik tidak menyeret seluruh peristiwa yang dia lakukan selama di Lampung, ke dalam ranah politik. "Jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering enggak nyambung," kata Joko Widodo di kediamannya  Sumber, Kota Solo, seperti ditulis Tempo.co, Selasa, 7 Juli 2026.


Menurut Jokowi, prosesi adat yang berlangsung saat safari politiknya di Lampung merupakan penghormatan masyarakat adat Lampung kepada tamu. 


"Itu ritual adat. Sekali lagi, itu ritual adat yang sudah tidak sekali dua kali, sudah ratusan kali dilakukan," kata Jokowi.


Dia mengaku merasa terhormat atas penyambutan yang diberikan. "Itu bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung, bentuk penghormatan dari Istana Kedatun Kerajaan Lampung. Saya merasa terhormat diberikan penghargaan," kata dia.


Dalam pandangan Jokowi, Indonesia memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang beragam sehingga harus dihormati dan dijaga. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memahami setiap prosesi adat dalam konteks kebudayaan, bukan semata-mata dari sudut pandang politik.


Seperti diketahui, ayah Wapres Gibran Rakabuming Raka itu menerima gelar adat kehormatan Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung di Kedaton Keagungan, Bandar Lampung, pada tanggal pada 27 Juni 2026 lalu.


Joko Widodo saat prosesi adat dan menginjak kepala kerbau (ist/inilampung)


Prosesi penganugerahan adat Lampung itu melibatkan sejumlah tahapan sakral, termasuk Cakak Pepadun (ritual menaiki singgasana) dan prosesi menginjak kepala kerbau sebagai bagian dari tata cara adat penerimaan gelar kehormatan.



Kritik PDIP

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romliuntu mempertanyakan Jokowi menginjak kepala kerbau. Dia menilai memandang gestur Joko Widodo sebagai cerminan ambisi kekuasaan. Apalagi, Jokowi adalah sosok mantan kader PDIP.


"Kepala kerbau yang diinjak melambangkan para pengikut Jokowi dan PSI yang terbuai di balik perilaku raja, padahal yang ada adalah ambisi kekuasaan tanpa batas untuk keluarga Jokowi," kata Guntur melalui pesan singkat, 28 Juni 2026 lalu.


Guntur mengatakan perilaku politik Jokowi setelah berpisah dengan PDIP pernah dikaji oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam disertasinya. Menurut dia, kajian tersebut menyimpulkan bahwa Jokowi tengah membangun model kepemimpinan yang bercorak populisme otoritarian.


Ia menilai kepemimpinan Jokowi memadukan unsur feodalisme dengan persepsi diri sebagai seorang raja, populisme melalui pembagian bantuan untuk menarik simpati masyarakat, serta karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai tujuan utama.


Bahkan, Guntur menyebut, Jokowi masih berupaya mempertahankan dan memperkuat pengaruh politiknya meski telah menyelesaikan masa jabatan sebagai presiden selama dua periode. Kecenderungan itu, kata dia, tetap terlihat meskipun anggota keluarga Jokowi masih menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan dan partai politik. (*)


LIPSUS