Timbangan Kopi
Cari Berita

Breaking News

banner atas

Timbangan Kopi

INILAMPUNG
Jumat, 13 Maret 2020

Ilustrasi: 

Oleh: Dalem Tehang

SEMBURAT mentari baru saja membuncah. Menerobos kegelapan yang masih terasakan.

 Hawa dingin menusuk tulang belum lagi hilang. Ketika seorang ayah dan anaknya yang masih berusia belasan tahun telah disibuki dengan kegiatan rutinnya. 

Sang anak mengeluarkan seekor sapi dari kandangnya. Membawa ke tempat gerobak yang akan diseretnya. Sementara sang ayah mengemasi bekal makanan dan minuman yang sudah disiapkan istrinya. Dan memasukkan alat timbangan besar ke dalam gerobaknya.

Pak Wan, begitu para tetangganya di daerah Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat, biasa memanggil pria paruh baya itu. Dia dikenal sebagai pembeli kopi hasil panenan kebun warga setempat. Datang dari rumah ke rumah warga yang akan menjual hasil tanamannya. Pekerjaan yang sudah dijalaninya selama belasan tahun.

Sang anak, Adit, adalah anak laki satu-satunya dan merupakan bungsu dari empat bersaudara. Buah perkawinan Pak Wan dengan Hamidah.

Setelah persiapan selesai, ayah dan anak ini pun menjalankan gerobaknya. Suara benturan roda gerobak dengan batu yang belum terbalut aspal, meningkahi suasana pagi itu. Namun baru sekitar 3 Km mereka berjalan, hujan turun. Deras sekali.

Pak Wan buru-buru mencari tempat berteduh. Pos ronda yang ada di pinggir jalan beraspal menjadi pilihan mereka. 

Pak Wan segera melepas tali pengikat sapi ke gerobaknya.  Digiringnya hewan itu ke bagian belakang pos ronda. Diikatkan talinya ke salah satu tiangnya. Adit menepikan gerobaknya dari jalan raya. Menarik ke samping pos ronda.

Pak Wan menatapkan matanya ke langit. Awan gelap beriringan. Menutup rapat sorot mentari yang sebelumnya sempat menerangi alam sekitar. Suasana memang berubah cepat. Kembali gelap. Hujan pun turun semakin deras. Seakan Tuhan sedang menguras kolam-Nya di langit sana.

Lama Pak Wan menatapkan matanya ke langit. Mulutnya komat-kamit. Membaca doa. Sampai kemudian, ia berucap pelan: "Hujan ini bakal lama. Bisa seharian!"

"Gimana kalau bener hujannya seharian, Ayah?" Adit melontarkan pertanyaan.
Pak Wan terhenyak. Tak menyangka ucapan pelannya didengar sang anak. Yang tampak ada kecemasan diraut wajahnya.

Dipandanginya wajah Adit sambil tersenyum. Pak Wan mencoba menenangkan hati anak bungsunya.

"Kalau hujannya lama, ya kita pulang aja dulu, anakku. Masih ada hari esok," jawab Pak Wan. Tetap sambil tersenyum. 

"Tapi kan ayah sudah janji dengan Pak Hendra mau beli hasil tanaman kopinya?!" sela Adit. 

Pak Wan tak menjawab. Matanya mengelilingi pos ronda. Ada yang dicarinya. 

"Timbangannya mana, Adit?" tanya dia kemudian.
"Di gerobak. Kenapa?" sahut Adit.
"Mestinya tadi diturunin. Dibawa kesini. Biar tidak kena hujan," kata Pak Wan. 
"Timbangan itu kan dari besi. Kena air hujan juga nggak apa-apalah, ayah," kata Adit.

"Ya memang tidak apa-apa. Tidak bakal rusak. Cuma bisa karatan," ucap Pak Wan.
"Kan bisa dibersihin karatannya sih, ayah. Nanti Adit yang ngamplasnya!"

"Urusan timbangan itu jangan main-main ya, anakku. Sedikit aja ada karat yang menempel, kita bisa merugikan orang lain," ucap Pak Wan dengan wajah serius. 

"Iya, nanti sampai rumah Adit bersihin dan periksa dengan teliti. Lagian nggak bakal juga kena hujan sekali bisa muncul karat, ayah," lanjut Adit.

"Jangan terbiasa meremehkan sesuatu walau hal itu kelihatannya memang remeh dan sederhana. Seperti ayah bilang tadi, urusan timbangan jangan main-main. Sedikit saja kita teledor, bisa merugikan orang lain. Dan ayah tidak mau itu terjadi. Belasan tahun ayah jalani pekerjaan ini, ayah baru berani pastikan beratnya kopi yang ditimbang kalau posisi timbangannya sudah benar-benar di tengah dan tidak bergerak lagi. Dan ini juga filosofi kehidupan kita di dunia ini, anakku," urai Pak Wan.

"Adit nggak paham, urusan timbangan kopi ayah jadiin filosofi kehidupan. Maksudnya apa sih?" tanya Adit sambil mendekatkan posisi duduknya ke tempat ayahnya yang bersandar di tiang pos ronda. 

"Kalau kita terbiasa menimbang dengan pas, di tengah-tengah dan tak bergerak lagi, kita akan tahu begitulah kehidupan ini. Kalau dosa dan kesalahan kita masih banyak, timbangan amal kita sedikit. Maka ia tak akan bisa berposisi di tengah. Terus ada pergerakan di bandulnya. Tapi kalau pas di tengah dan tak ada gerakan lagi, artinya hidup kita sudah seimbang. Antara dosa dan amal kita," jelas Pak Wan.

"Kalau sudah sesuai aturan penimbangan, kehidupan kita seperti apa ya, ayah?!" tanya Adit.

"Kita akan terus jaga keseimbangannya. Ketepatannya. Dengan terus perbaiki diri. Itulah hakekat kehidupan. Keseimbangan," ujar Pak Wan.

"Tapi kan kalau kita terus perbaiki diri, berbuat yang baik-baik aja, otomatis timbangannya jadi bergeser dong!" sela Adit.
"Semestinya memang begitu. Tapi jangan lupa, makin kita perbaiki diri, makin banyak juga Tuhan kasih ujian dan cobaan. Jadi lebih baik jaga keseimbangan atau ketepatan timbanganmu ketimbang membayangkan amalmu lebih baik dari pada kesalahanmu maka timbangan akan bergeser. Yang penting itu terus saja perbaiki diri. Selebihnya serahkan pada Tuhan untuk mengaturnya," kata Pak Wan seraya mengajak Adit bersiap-siap untuk pulang. 

"Kok pulang? Kan ayah sudah janji dengan Pak Hendra mau beli kopinya?" kata Adit. Setengah protes. 

"Timbangan kopi kita sudah basah. Walau timbangan ini terbuat dari besi, ayah ragu akan kepastian ukurannya. Dari pada dapat mudharat, baikan kita pulang saja. Pasti ada hikmahnya kenapa Tuhan turunkan pagi ini," kata Pak Wan sambil membawa sapinya dan memasang tali pengikat di gerobaknya.

Dibawah curahan hujan yang deras, ayah dan anak ini pun memutar arah. Kembali ke rumah. 

Sesekali Adit menengok ke belakang. Memandang timbangan kopi yang tergolek dan kehujanan. Dia tak mengira, benda mati itu sangat berarti bagi sang ayah dalam melakoni kehidupan selama ini. (*)

penulis: pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Bandarlampung

LIPSUS