PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (65)
Cari Berita

Breaking News

banner atas

PENGUNJUNG-PENGUNJUNG KAFE (65)

bdy
Senin, 09 Maret 2020




AKU bersyukur Tuhan mempertemukan aku pada Suryadi. Padahal, dalam mimpi pun tak ada dalam bayanganku wajah temanku semasa kuliah. Sur yang bandel, sang playboy, tapi selalu komit dengan nilai perkawanan. 

Di sebuah stasiun kami dipertemukan. Lalu ia mengajakku ke Kafe Taman Untung. Makan malam. Menikmati kopi. Mengenang masa kuliah. Sampai pada tawarannya menulis novel. Tentang dunia kafe. Geliat yang terjadi di sana. 

Mulanya aku malas. Tak yakin apakah aku mampu menulisnya. Aku juga ragu dengan kemampuanku bisa bertahan mengunjungi kafe demi kafe. Sebagai pengunjung pula. Akhirnya pekerjaan ini kulakoni denga keriangan. Aku tak terbebani, walaupun harus memasuki kafe ke kafe. 

Selama riset berbagai kafe di kota ini, aku bertermu lagi atau awal perkenalan dengan Sani, Dinda, Nita, Santi, Rena, juga Panzir, Ebi, Riko, Ermanto, juga perempuan misteriis di Kafe Marley, yakni Merichist. 

Sampai sekarang, dua bulan dari peristiwa gaduh di Marley, aku belum juga bisa membuka tabir siapa Meri. Ia raib. Kuhubungi nomor kontaknya, tak ada tanda kehidupan. Aku juga pernah mendatangi toko buku yang katanya miliknya, tapi pegawai toko itu tak kenal. Justru balik bertanya, "Orangnya kayak mana?"

Setelah kujelaskan ciri-cirinya, pegawai toko buku itu justru meragukan kebenaran nama yang kusebut.

"Nama Meri banyak. Di sini aja ada 2 orang," katanya. "Tapi bukan Merichrist."

Sebulan lebih aku mencari tahu siapa Meri. Keberadaannya di mana? Juga sekaitan penangkapan lelaki itu di Marley. Tak ada titik terang. Bahkan sekecil pun.

Akhirnya kututup lembaran tentang Meri. Termasuk tulisan diary yang ia kirim padaku. Memupuskan ingatan pada seseorang yang tak berarti, lebih ringan bagiku. Dibanding merawat pertemanan yang mendalam dan saling menjaga agar tiada luka.

Aku baca lagi puisi yang kutulis setahun lalu. Ini puisi kutemukan kembali di tumpulan file laptopku. Tiba-tiba saja kurindukan di balik dari puisiku tersebut. Di saat sekarang, masih adakah persahabatan yang saling bersemayam di tubuh? Bukan datang untuk menatap fisik lalu pergi tiada asyik.

hanya kau yang telah 
bersemayam di tubuhku
tahu sakit dan tawaku
geliat riang atau meriang

ikut aku ke mana pergi
menjalani hari yang basah
maupun kala kerontang
: jadi mulut waktu berkata

di antara baris puisiku
kau menjelma jadi wajahku
yang semringah serta gelisah
bukan masuk untuk merusak

katakataku
baris dari jalanku

Puisiku, kalau Anda mau mengatakannya puisi pula, belum terhinpun dalam buku. Ia rapi tersimpan di antara ratusan file dan polder. Puisinya tak akan pernah hidup jika aku tak menyawakannya.

Kau tahu, puisi hanyalah huruf-huruf. Cuma bangunan kata. Datang dari kedalaman jiwa seseorang. Ia lahir dari rahim hati, pikiranlah yang merawat agar ia hamil matang. Maka ketika puisi lahir, kau timang kau rawat. Bukan ditelantarkan. 

Kalau kau telantarkan atau kau tak bersedih saat kehilangan, berarti puisi itu bukan milikmu. 

"Bagaimana kau bisa bersedih saat kehilangan, jika itu bukan milikmu?" kata guru teaterku semasa SMA. "Hanya yang merasa memiliki, ia akan sedih ketika kehilangan. Merasa pedih jika menelantarkan. Apalagi itu lahir dari kedalaman hati dan jiwanya," kata guruku lagi. 

Guru teaterku jebolan Seniman Senen. Lalu ia hijrah ke sini. Mengumpulkan anak-anak muda. Dari broken home hingga yang hidupnya tak berulah. Kami dididik keras. Latihan vokal, gestur alias akting, menghapal naskah. 

"Kalian yang pemabuk, menyingkirlah dariku!" pesannya. Kami takut tapi juga kami hormat.

Di sela latihan teater, kami juga belajar menulis sastra. Itulah yang membentukku kemudian. Aku tak jadi aktor panggung apalagi sinetron. Kupilih dunia sastra: jadi sastrawan.

(Terima kasih guru teaterku sekaligus guruku yang menguakkan tirai kegelapanku, hingga aku tahu kesenian ini. Alfatiha untukmu, MZS!)

Kini aku harus bersyukur, juga berterima kasih. Pada Sur, Dinda, maupun Rena. Bahkan orang-orang yang kujumpai maupun kujadikan teman berbincang di berbagai kafe.

Karena mereka, perjalananku dari kafe ke kafe boleh kusebut lancar dan sukses. Kafe yang mempertemukan aku dengan para pengunjung. Kafe pula aku dapat menguak dunia yang luas ini.

Aku bisa mengenal sedikit pribadi dan kehidupan orang-orang yang kujumpai. Perjalanan dan hidup berikut 'takdir' Rena. Perempuan yang pernah menikah dengan lelaki bule saat suaminya bekerja di Indonesia. Lalu kembali ke negaranya dan hidup bersama anak-istrinya. Begitu absurd rasanya, tiba-tiba bisa bertemu di Bali. Saat Robert berlibur dengan istrinya. Dan Rena berada di sana. Sepertinya, hanya dalam roman ini bisa terjadi!

Atau Dinda. Aih! Wanita satu ini tak ada sebarispun dalam diaryku kutulis kata: "kecewa!" Dia seolah sudah bersemayan di tubuhku. Menjadikan tubuhku bagian dari tubuhnya. 

Ketika kau sakit, kekasihku, apakah yang paling kurasakan? Sakitku juga. Apabila kau mengabarkan sakit, sampai padaku juga rasa sakit yang bertubi-tubi.



"Jadi jangan kau remehkan pertemaman, jangan lukai kawan walau tak sengaja," nasihat guru teatetku itu.

Dalam perjalananku di kafe-kafe, aku bertemu banyak orang -- pengunjung -- yang kurasa berkesan. Ia membekas. Misal Melani, perempuan seusiaku, yang banyak memberi masukan, kritik, dan wejangan. Untuk soal keagamaan, ia yang berbeda agama denganku, memberi pandangan ajaran Kristus. Aku suka dan berterima kasih.

Tak heran, selain kepada Dinda, tulisanku diam-diam kuberi pada Melani untuk dikoreksi. Tetapi pada Melani, aku menghormatinya selaku kawan diskusi dan pemberi masukan.

Dinda?

Aku rindu dia!

Aku telepon Dinda. Ditutup saluran percakapan. Aku menggeleng.

Gawai kuletakkan di meja. 

Pengunjung Kafe Diggers belum banyak. Maklum masih pukul 19.10, Jumat malam. Biasanya memang tidak ramai. 

Tiga puluh menit kemudian gawaiku bernyanyi. Dering telepon genggamku sengaja kupilih lagu Ebiet G Ade. Kenapa? Karena aku menyukai syair dan musiknya. Titik. Itu selalu jadi alasan ketika ada yang bertanya atau mengusik soal selera musikku.

"Halo..." kataku.

Dinda.

"Di mana Busy?" 

"Di Diggers. Ke sinikah?"

"Ya. Aku sudah di jalan. Aku barusan mampir di Gramedia. Beli buku."

"Buku apa?"

"Cara menundukkan Lelaki..." jawabnya tertawa. 

Aku ikut tertawa.

"Kamu nge-Grab ya Dinda?"

"Ya. Biar pulangnya nebeng kamu. Boleh kan, Busy?" 

"Boleh sekali. Hehe...."

"Ciyusss?" 

Kalau sudah mengucapkan kata serius dengan lafas 'ciyuuss', hatiku bergertar. Terdengar manjanya.

Dinda tiba 15 menit kemudian. Ia menuju di mana aku duduk. Sambil menggandeng pelayan yang biasa. Ia memesan nasi dan sop kambing. Minumannnya, jus jeruk. Aku nambah segelas kopi. 

Kami berbincang. Tapi tak menyinggung nama Rena. 

Tak pula merasa punya rindu. Kami malah bicara yang paling serius. Misal pernikahan, rumah tangga, dan lainnya.

"Aku tak menyoal apakah lelaki pendampingku dari suku apa, tapi aku berdoa adalah seiman. Karena ia harus menjadi imam bagiku dan anak," katanya.

"Kalau ternyata suamimu beda agama?"

"Lihat dulu dari pacaran dong. Bukan tahunya begitu melamar atau menikah," ujar dia.

"Jadi..."

"Sebisa mungkin mencegah sebelum mendekati lamaran..."

"Artinya, kau tak mau beda agama dalam rumah tangga?"

"Ya. Kecuali dalam bertetanga, tak masalah."

"Oke juga pendirianmu, Nda."

"Doakan bisa kupertahankan. Jadi gak ada persoalan di rumah tangga kalau seyakinan," tambah dia.

"Andai kamu...." katanya beberapa menit kemudian. "Ah, maaf aku salah ucap. Aku ngelindur..."

Aku tak begitu merespon. Sebab ucapan Dinda itu kurang pula terdengar. Ia benar-benar serang melindur. Bergumam.

Lama kami membisu. Barangkali masing-masing kami main dengan perasaan dan pikiran. Melanglang jauh sekali.



(Bersambung)


#isbedy
#paus sastra lampung
#cerita bersambung
#lamban sastra isbedy stiawan zs


LIPSUS